METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA

TEORI BELAJAR

 

MATA KULIAH   : METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA

KELOMPOK      : II (DUA)

  1. SJATRI DELVI
  2. NURKUMALA

DOSEN           : PROF.Dr. HJ. SABARTI AKHADIYAH,M.k

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

PASCASARJANA UNIVERSITAS UHAMKA

JAKARTA 2009

 

Theory is an explanation of events on which future cources of action can be based.Teori adalah suatu penjelasan tentang kejadian-kejadian yang dapat digunakan sebagai Dasar untuk menjelaskan terjadinya peristiwa di waktu yang akan datang (Hansen.1982)

Learning is shown by change in behavior as a result of experience, Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman (Cronbach) Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction, Belajar adalah dilakukan dengan mengamati, membaca, menirukan, mencoba,mendengarkan, mengikuti petunjuk dan pengarahan (Harold spears ) Learning is a change in performance as a result of practice Belajar adalah perubahan penampilan sebagai hasil praktik (Geoch )

Berbagai domain penelitian dan penyelidikan tentang pengertian dari belajar, antara lain

Ciri kegiatan yang disebut “belajar” menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar (behavioral changes) baik aktual maupun potensial. Dari mempelajari teori diperoleh prinsip, dalil, hukum.Prinsip,dalil, dan hukum diterapkan ke dalam praktek untuk memecahkan / menghadapi  masalah agar lebih efektif dan efisien. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi proses belajar individu adalah motivasi .

TEORI-TEORI BELAJAR

Menurut  Atkinson dan Gredler Margaret Bell secara umum teori belajar dapat dikelompokkan dalam empat aliran yaitu :

A. Aliran Behavioristik (Tingkah Laku)

Pandangan tentang belajar menurut aliran behavioristik adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Artinya, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Para ahli yang banyak berkarya dalam aliran ini antara lain: Thorndike, watson,Clark Hull, dan Skinner. Menurut Thorndike belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Menurutnya perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret atau yang nonkonkret.Berbeda dengan Thorndike, menurut Watson stimulus dan respon harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati. Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui.Clark Hull mengemukaan konsep pokok teorinya yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusi. Menurutnya tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup.Skinner merupakan penganut paham neobehavioris yang mengalihkan dari laboratorium ke praktek kelas. Menurutnya deskripsi hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku menurut Watson tidaklah lengkap. Respon yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab setiap stimulus yang

Diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi itu akhirnya mempengaruhi respon yang dihasilkan. Sedangkan respon tersebut juga menghasilan berbagai konsekuensi yang akan memengaruhi tingkah aku siswa.

B. Aliran Kognitif

Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil beajar. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tetapi, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Beberapa ahli yang mendukung teori kognitif adalah Piaget, Ausubel, dan Bruner.Menurut Jean Piaget proses belajar terdiri dari tiga tahapan, yaitu :

  1. proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa (asimilasi)
  2. proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru (akomodasi);
  3. proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi (equilibrasi).

Bruner berpendapat bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya.

C. Aliran Humanistik

Teori ini memuat gagasan bahwa proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Teori humanistik lebih mendekati pada dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataannya teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya. Teori ini dianut oleh Bloom dan Krathwohl, Kolb, Honey dan Mumford, serta Habermas.Bloom dan Krathwohl mengemukakan tiga hal yang bisa dikuasai oleh siswa, meliputi: ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah Afektif. Tiga ranah itu tercakup dalam teori yang lebih dikenal sebagai Taksonomi Bloom.Habermas berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia.

D. Aliran Sibernetik

Teori beraliran sibernetik berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Sama dengan aliran kognitif, teori sibernetik juga mementingkan proses, tetapi yang lebih penting adalah sistem informasi yang diproses. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses. Teori ini dikembangkan oleh Landa, Pask dan Scott.Menurut Landa ada dua proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu sasaran. Jenis kedua adalah cara berpikir heuristik, yakni cara berpikir divergen menuju ke beberapa sasaran sekaligus.Senada dengan Landa, Pask dan Scott juga membagi proses berpikir manjadi dua macam. Pertama pendekatan serialis yang menyerupai pendekatan algoritmik yang dikemukakan Landa. Jenis kedua adalah cara berpikir menyeluruh yaitu berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi.

TEORI BELAJAR BAHASA

1. B.F  Skinner : Verbal Bahavior

B.F. Skinner (104-1990) berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise).

Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat.

Operant Concitioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulu-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.

Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang

Beberapa prinsip belajar Skiner antara lain :

1-              Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa,jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat

2-    Proses belajar harus mengukuti irama dari yang belajar

3-    Materi pelajaran, digunakan sistem modul

4-    Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri

5-    Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman,namun lingkungan harus diubah untuk menghindari adanya hukuman

6-    Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah,dengan menggunakan jadwal variabel rasio reinforcer

7-    Dalam pembelajaran dipergunakan shaping

Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran

  1. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis
  2. Hasil belajar harus segera diberitahukan,Jika salah dibenarkan dan jika benar diberi penguatan
  3. Proses belajar harus mengikuti iramadari yang belajar
  4. Materi pelajaran menggunakan sistem modul
  5. Tes lebih ditekankan untuk kepentingaan diagnostik
  6. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkanaktivitas sendiri
  7. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman
  8. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk menghindari pelanggran agar tidak menghukum
  9. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah

10.  Hadiaah diberikan kadang-kadang jika perlu

11.  Tingkah laku yang diinginkan ,dianalisis untuk mencapai tujuan

12.  Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping

13.  Mementingkan kebutuhan yang akan menibulkan tingkah laku yang operan

14.  Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine

15.  Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya msing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda

KELEBIHAN dan KEKURANGAN TEORI SKENNER

KELEBIHAN

Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai anak didiknya.Hal ini ditunjukkaan dengan dihilangkan sistem hukuman.Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan

KEKURANGAN

Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. Hal tersebut akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar mengajar. Dengan melaksanakan Mastery Learning, tugas guru akan semakin menjadi berat.

Beberapa kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Selain itu kesalahan dalam reinforcemen positif juga terjadi dalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata pelajaran.

 

2. Noam Chomsky :Aliran Rasionalisme

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.
Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam, maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).Tokoh-tokohnya: Rene Descartes(1596-1650), Nicholas malerbrance(1638-1775), B.De Spinoza(1632-1677M), G.W.Leibniz (1946-1716), Cristian Wolff(1679-1754), Blaise Pascal(1623-1662M)

Zaman sekarang, pandangan tentang bahasa merujuk pada pemikiran Ferdinand de Sausure yang ia ungkapkan pada pertengahan abad ke-20. Inti pemikirannya adalah bahasa merupakan suatu sistem tanda. Pengertian dan hakikat bahasa, tampak bahwa pemikiran de Sausure begitu mewarnai pandangan para hali tentang bahasa, meskipun para ahli itu  memandang dari keahlian mereka masing-masing.

Meskipun Pemikiran De Sausure tentang langage, Langue, dan parole tetap bertahan sampai sekarang, tetapi para penerusnya yang mengembangkan konsep tersebut tidak memiliki pandangan yang bisa dikatakan seragam.  Para penerusnya itu secara garis besar bisa dibagi menjadi dua kelompok besar  yaitu penganut aliran empiris dan penganut aliran rasionalis.

Penganut aliran empiris sering pula dijuluki kaum behavioris, mekanis, atau Bloomfield.  Dalam dunia pengajaran bahasa, aliran ini digolongkan ke dalam ahli bahasa struktural dan ilmu bahasa deskriptif. Sedangkan aliran rasionalis biasa pula disebut sebagai aliran Noam chomsky.

Aliran struktural memandang bahasa dengan menggunakan prinsip-prinsip berikut:

  1. Bahasa adalah ujaran , bukan tulisan
  2. Bahasa adalah serangkaian kebiasaan;
  3. Lebih menekankan pada bahasanya , bukan tentang bahasanya

Bahasa adalah apa-apa yang dikatakan oleh para pemakainya (native speaker) dan bukan yang seharusnya dikatakan

  1. Tidak ada satu bahasa yang persis sama dengan bahasa lain.

Kaum rasionalis  memandang bahasa dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Suatu bahasa yang hidup ditandai oleh kreativitas yang dituntut oleh  aturan-aturan. Aturan-aturan tatabahasa nyata bertalian dengan tingkah laku kejiwaan
  2. Manusia  adalah satu-satunya makhluk yang dapat belajar bahasa
  3. Bahasa yang hidup adalah bahasa yang dapat dipakai dalam berpikir

Sebagaimana ditampakkan oleh prinsip-prinsip yang dianutnya, pendapat kedua aliran ahli bahasa di atas sebenarnya berawal dari konsep dasar yang diberikan De Sausure, yang membedakannya adalah kaum empiris melihat bahasa lebih pada wujudnya sebagai parol , sedangkan kaum rasionalis mengaitkan parol dan Langage.

3.Krashen

Model monitor yang didasarkan lima hipotesis yang dikemukakan Kreshen antara lain pemerolehan belajar,urutan alamiah, input, monitor, dan saringan afektif dianggap mempunyai keunggulan lebih dibandingkan model-model lainnya.Meskipun demikian tidak berarti bahwa model ini tidak memiliki kelemahan.Sejumlah kritik telah dikemukakan para ahli lainnya.

 

Second Language Acquisition

Bahasa kedua adalah proses akuisisi oleh orang-orang yang belajar bahasa selain bahasa asli mereka.Istilah kedua adalah bahasa yang digunakan untuk menjelaskan bahasa apapun akuisisi yang dimulai setelah anak usia dini.Bahasa yang akan dipelajari sering disebut sebagai bahasa target atau L2 dibandingkan dengan bahasa pertama L1.Bahasa kedua akuisisi dapat disingkat SLA / L2A untuk L2 akuisisi.

Kebanyakkan peserta didik memulai proses akuisisi mereka dengan masa diam dan mereka berbicara sangat sedikit.Namun penelitian telah menunjukkan bahwa banyak diam peserta didik yang terlibat dalam pembicaraan pribadi yang disebut self talk.

Stephen Crashen (1984) menyatakan bahwa teori pemerolehan bahasa kedua adalah bagian dari linguistik teoritik karena sifatnya yang abstrak

.Pemerolehan dan pembelajaran bahasa dipakai untuk membahas penguasaan bahasa pertama dikalangan anak-anak karena proses tersebut terjadi karena tampa sadar , sedangkanpemerolehan bahasa ke dua atau SLA dilaksanakan dengan sadar.

Hipotesis mengenai pemantau(monitor) pembelajaran berfungsi sebagai pemantau.Pembelajaran tampil untuk menggantikan bentuk ujaran sesudah ujaran dapat diproduksi berupa sistem.Penerapan pemantau dapat menghasilkan efektifitas jika pemakai B2 memusatkan perhatian pada bentuk yang benar.Mc.Laughlin menyatakan bahwa monitor jarang dipakai dalam kondisi normal pemakaian dan dalam pemerolehan B2 dan monitor secara teoritis merupakan konsep yang tak berguna.

Hipotesis input (masukkan) belajar B2 dianggap mengalami suatu perkembangan dari tahapan kompetensi sekarang menuju tahapan berikutnya yang sudah dimengerti.

Hipotesis filter afektif mempunyai kaitan dengan proses pemerolehan bahasa yang dikemukakan  oleh Dulay dan Burt (1977)

Hipotesis analisis kontrantif yang menyatakan sistem yang berbeda dapat menghasilkan masalah, sedangkan sistem yang sama atau serupa menyediakan fasilitas atau memudahkan si bbelajar memperoleh B2.Namun hipotesis ini juga dianggap kurang efektif karena dalam banyakm kasus sistem yang berbeda justru tidak menimbulkan masalah.Dan sebaliknya.

Inter language adalah bahsa yang mengacu kepada sistem bahasa di luar sistem B1 dan kedudukannya berada di antara B1 dan B2(selingker,1972)

 

 

 

  1. 4. Mc Laughlin

Pendekatan kognitif  lebih menekankan pemahaman dan proses mental dalam pemerolehan: sesuai dengan pandangan Piaget , pengetahuan manusia merupakan sruktur yang terorganisasi dan semua yang harus dipelajari diintegrasikan ke dalam sruktur tersebut; belajar bahasa kedua merupakan pemerolehan keterampilan kognitif yang kompleks yang memerlukan latihan, automatisasi, dan pengorganisasian ke dalam sruktur representasi internal yang selalu direstruktursasi selama proses perkembangan.Seperti diketahui, Piaget mengatakan bahwa proses belajar terjadi  melalui asimilasi, akomodasi, dan ekuibrasi

 

5.Shiffrin & Schneider

Model pengolahan informasi,pengolahan otomatis, proses yang terkendali

6.Ellis (1990) dan Anderson (1980,1985)

Pengetahuan deklaratif yaitu knowing what yang diproses secara eksplisit, sadar, serta dapat diucapkan oleh pelajar dan pengetahuan procedural yaitu kowing how…Ia juga mengatakan belajar B2 berbeda dengan belajar yang lain; ini sejalan dengan pandangan Universal Grammer bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi khusus, bukan sekedar merupakan subset belajar secara umum.

 

7.Anderson

Model belajar yang terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap kognitif,tahap asosiatif, dan tahap otonam. Tahap tersebut merupakan proses internalisasi dan otomasisasi dalam belajar bahasa.

 

8.Thorndike : koneksionisme

berdasarkan teorinya pada fungsi otak; otak manusia terdiri dari puluhan bilyun neurons yang bekerja secara serentak dalam pemrosesan pikiran dan persepsi manusia.Model kognisi koneksionisme menyatakan bahwa pengendalian pemrosesan informasi terdistribusikan pada bagian-bagian jarigan yang bekerja sama (parallel distributed processing/PDP). Dalam hal ini teori koneksionisme berbeda dengan teori gramatikal universal, teori monitor, dan teori kognitif yang menyatakan adanya semacam central executive yang bertugas mengawasi jalannya pemrosesan serta memilih aturan atau prinsip yang diterapkan dan melaksanakannya.Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses :

  1. Trial and Error ( mencoba-coba dan mengalamai kegagalaan )
  2. Law of effect yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari sebaik-baiknya.Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menyenangkan akan dihilangkan atau dilupakaannya.Tingkah laku ini akan terjadi secara otomatis.Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat-syarat tertentu pada binatang juga manusia.

Thorndike melihat bahwa organisme itu sebagai mekanismus; hanya bergerak/bertindak jika ada peransang yang mempengaruhi dirinya.Terjadinya otomatisme dalam belajar menurut Torndike disebabkan adanya law of effect

Dalam kehidupan sehari-hari Law of Effect itu dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan /ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan. Karena adanya Law of Effect terjadilah hubungan (Connection )atau asosiasi antara tingkah laku/ reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasilnya( effect). Karena adanya keneksi antara reaksi dan hasilnya.

Kelemahan dari teori koneksionisme adalah …

1. Terlalu memandang otomatisme belaka

2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon

3. Karena belajar dipandang secara mekanistis,maka “pengertian” tidak dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar

 

9.David Asubel

Partisipasi mental secara aktif sangat penting dalam belajar.David Asubel megatakan bahwa memang teori tentang belajar tidak dengan sendirinya menuturkan bagaimana seharusnya mengajar, namun ia memandang teori belajar sebagai titik berangkat untuk menemukan prinsip-prinsip umum tentang mengajar yang efektif.Diperlukan penelitian tambahan yang memperhitungkan juga masalah-masalah praktis dan variable-variabek instruksional yang tidak terkandung dalam prinsip belajar.Bagi Ausabel, mengajar pada dasarnya berarti manipulasi proses belajar oleh pihak luar untuk meningkatkan hasil belajar. Ia berharap bahwa dengan mengetahui sebab-sebab suatu fenomena, lambat atau cepat akan diketahui juga cara mengontrolnya.Untuk itu Ausubel menyarankan cara-cara memaksimalkan hasil belajar menyajikan dan menata bahan pelajaran secara runtut dengan menggunakan pendahuluan yang jelas, merangsang penemuan yang relevan yanag terdapat dalam struktur kognitif siswa.Bahan pendahuluan ini berfungsi sebagai organizer harus bersifat inklusif, berhubungan dengan apa yang diketahui siswa.Di samping itu dipandang penting untuk mengorganisasi kesempatan bagi siswa untuk berlatih/berpraktik.

 

 

Daftar Pustaka

 

Ngalim purwanto,M. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakara.

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono.2004. Psikologi belajar . Jakarta: Rineka Cipta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s