UJIAN AKHIR SEMESTER

MEDIA KOMPUTER SEBAGAI SARANA  PEMBELAJARAN

MEMBACA BAHASA INDONESIA DAN REFLEKSI GURU

 


MATA KULIAH      :  ICT

DOSEN                  :  Dr. Hartoyo,  M.A. Ph. D.

 

 

NAMA           : NUR KAMALA

NIM              : 0908056012

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR.HAMKAPROGRAM PASCASARJANA BAHASA INDONESIA TAHUNAKADEMIK2009/2010

 

 

MEDIA KOMPUTER SEBAGAI SARANA  PEMBELAJARAN

MEMBACA BAHASA INDONESIA DAN REFLEKSI GURU


A.        Latar Belakang

Salah satu perangkat pada KTSP adalah silabus.Penyusunan silabus mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai sarana komunikasi dan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Dalam hal ini ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan bersastra  yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek itu merupakan aspek yang terintegrasi dalam pembelajarn walaupun dalam silabus keempat aspek tersebut masih dapat dipisahkan.

Pada sisi lain, bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi dan sastra merupakan sarana kreativitas yang pelaksanaan pembelajarnnya harus menggunakan  media  yang sesuai  dan efetif k dengan aspeknya. Salah satu aspaknya adalah aspek membaca.

Dalam dunia pendidikan, aktivitas dan tugas membaca tidak dapat ditawar-tawar lagi. Keberhasilan studi seseorang akan sangat ditentukan oleh kemampuan dan minatnya dalam membaca. Bahkan setelah seorang siswa menyelesaikan studinya, kemampuan membacanya itu akan sangat mempengaruhi keluasan pandangan tentang berbagai masalah  (Burhan Nurgiantoro, 1988).

Faktor  pengetahuan dan latihan merupakan penunjang bagi tercapainya kemampuan membaca yang tinggi. Jadi, kemmpuan membaca tidak akan datang dengan sendirinya. Menurut Nurhadi, day abaca yang tinggi diperoleh nelalui pengetahuan tentang cara membaca (Nurhadi, 1989).

Selanjutnya, menurut Harjasujana, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan membaca (reading lateray) para peserta didik kita, mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi umumnya hingga saat ini memprihatinkan ( Akhmad S. Harjasujana, 1999). Sebagai gambaran, misalnya menurut hasil penelitian IAEA (International Association for the Educational Achievment) diperoleh keterangan bahwa kemampuan membaca para siswa usia SD kita masih sangat mengkhwatirkan. Dari hasil tes membaca pemahaman (reading comperhention) terhadap aneka wacana: narasi, eksposisi dan dokumen yang diselenggarakan selama 75 menit, ternyata kemmpuan membaca para siswa usia SD kita berada pada peringkat ke-30 dari 31 negara yang menjadi sampel penelitian mereka.hasi temuan mereka juga dikuatkan Balitbang Dikbud (1993). Mereka menyebutkan bahwa penguasaan praktis yang mendukung keterampilan memahami bacaan dari para siswa SD kita juga masih sangat mengecewakan. Salah satu temuan mereka misalnya, hanya 5 % dari siswa kelas VI SD kita yang dapat menggunakan kamus bahasa Indonesia untuk keperluan membaca (mencari kata dalam kamus bahasa Indonesia secara sistematis dan benar). Adapun sekitar 76,95 % belum mampu melakukannya.

Saat ditanyakan  kepada siswa mengapa mereka banyak yang menjawab salah untuk soal materi membaca, maka kebanyakan dari mereka menjawab karena malas untuk membaca kutipan bacaan yang mereka anggap panjang seperti teks surat kabar. Hal tersebut membuat mereka menjawab soal bukan karena alasan bahwa jawaban itu mereka anggap benar sesuai dengan teks kutipan bacaan, tapi lebih dikarenakan spekulasi atau hitung kancing, bahkan mencontek dari jawaban temannya yang besar kemungkinan juga dengan alasan yang sama.

Untuk menyikapi masalah tersebut, maka diperlukan kreativitas guru bahasa Indonesia dalam mencari metode yang tepat untuk menyiasati agar pembelajaran membaca menjadi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Banyak metode yang telah ditawarkan oleh para pakar pendidikan.Maka bukanlah hal yang sulit bila guru berani mengambil langkah untuk selektif memilih metode yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Selama ini, kebanyakan guru bahasa Indonesia lebih sering dan banyak menggunakan media konvensional dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya pembelajaran membaca pemahaman. Sumber bacaan diperoleh dari buku teks atau paket, atau bahkan LKS yang telah disediakan sekolah.Pada pelaksaan pembelajaran membaca pemahaman dengan media konvensional, guru lebih banyak mendominasi, sementara siswa terkesan pasif dan hanya mendengar dan menerima yang diperintahkan oleh guru. Kalimat perintah, seperti buka halaman sekian, baca dalam hati kemudian jawab pertanyaan bacaan sesuai dengan isi bacaan sudah terbiasa didengar oleh siswa sejak SD. Tentu saja, hal ini menjadikan siswa bosan dan makin menurunkan minat baca mereka. Terlebih lagi, guru tidak menyadarinya selama ini, dan terus saja berlangsung tanpa solusi yang pasti.

Dari sumber bacaan yang diperoleh melalui buku teks atau paket, banyak bacaan yang temanya sudah tidak dianggap aktual dan menarik lagi bagi siswa.Maka lengkaplah bila siswa merasa makin terkurung oleh doktrin guru pada metode pembelajaran yang konvensional. Siswa merasa yang dilakukannya pada proses pembelajaran secara terpaksa sebagai objek bukan sebagai subjek.

Sebenarnya banyak sekolah yang sudah melengkapi fasilitas belajar yang berkaitan dengan elektronik guna membantu proses pembelajaran, khususnya di sekolah-sekolah negeri di Jakarta. Namun sayang,  terkadang hal ini diabaikan oleh kebanyakan guru yang masih menganggap sulit dan merepotkan dengan istilah gaptek atau gagap teknologi. Akibatnya, banyak fasilitas yang telah tersedia mubazir dan tidak terpakai karena tak dimanfaatkan fungsi dan peranannya. Terlebih lagi, sudah banyak siswa yang membawa laptop sebagai penunjang belajar mereka yang tentu saja sebenarnya menguntungkan bagi guru bahasa Indonesia  yang tidak perlu repot lagi menggunakan laboratorium media informatika yang juga sering digunakan oleh guru TIK.

Dari  kondisi dan fasilitas yang menunjang tersebut, alangkah baiknya bila kita manfaatkan pembelajaran bahasa, khusunya bahasa Indonesia melalui fasilitas yang tesedia dari computer, misalnya memanfaatkan Computer Assisted Language Learning ( CALL). Aspek yang kita gunakan pada pembelajaran bahasa Indonesia di sini misalnya aspek membaca.

Program CALL (Pembelajaran dengan bantuan computer) merujuk pada pembelajaran yang melibatkan penggunaan computer, biasanya dengan piranti system computer interaktif (system hypertext/multimedia) sehingga antara siswa dan computer dapat saling berinteraksi satu sama lain, dan siswa diberi kebebasan untuk memilih topik atau informasi , bahkan untuk memecahkannya sendiri (Hartoyo, 2010)

II. PEMBAHASAN

Mutu pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih belum seperti yang diharapkan.Salah satu contoh masalah mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari laporan tentang Indeks Pembangunan Pendidikan (EDI) tahun 2007 (Wisnu, 2007).Posisi Indonesia berada pada peringkat 62 berada di bawah Malaysia yang berada pada peringkat 56.Mengingat bahwa mutu pendidikan sangat ditentukan oleh mutu kegiatan pembelajaran di dalam kelas, perlu ada upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran.Di antara langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan media komputer dalam kegiatan pembelajaran dan mendorong guru untuk selalu melakukan refleksi diri agar dapat melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada kegiatan pembelajarannya dan mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang dialami di dalam kelas.Bahkan salah satu kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, mensyaratkan kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan pemanfaatan komputer untuk kegiatan pembelajaran dan untuk kegiatan refleksi diri bagi guru.

Kegiatan pembelajaran di sekolah adalah kegiatan pendidikan pada umumnya, yang menjadikan siswa menuju keadaan yang lebih baik.Pendidikan dalam hal ini sekolah tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian materi. Profesionalisme seorang guru sangatlah dibutuhkan guna terciptanya suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan siswa yang memiliki kemampuan beragam. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya .Oleh karena itu pada proses pembelajaran guru perlu meningkatkan kemampuan menjadi guru professional dan kreatif dalam mengembangkan kemampuan mengajar sehingga siswa dapat maksimal walaupun dalam kenyataannya guru-guru di Indonesia sebagian besar masih mempertahankan media  pembelajaran lama. Kemampuan guru sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dimana guru merupakan elemen di sekolah yang secara langsung dan aktif bersinggungan dengan siswa, kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan mengajar dengan menerapkan model pembelajarn yan tepat, efisien dan efektif.

Menurut UNESCO: “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together“ siswa bukan hanya duduk diam dan mendengarkan. Siswa harus diberdayakan agar siswa mau serta mampu berbuat untuk memperkaya pengelaman belajar (learning to do ).Interaksi siswa dengan lingkungannya menuntut mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know).Interaksi tersebut diharapkan siswa dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadian untuk memahami kebersamaan, bersikap toleransi terhadap teman (learning to live together).

Kegiatan pembelajaran di dalam kelas mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan peserta didik. Hanya melalui kegiatan pembelajaran yang efektif prestasi peserta didik akan dapat dicapai. Kemajuan teknologi telah banyak memberikan kontribusi dalam berbagai hal termasuk dalam rangka membantu peningkatan efektivitas pembelajaran.Tulisan  ini mencoba membahas dua hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, yaitu memanfaatkan komputer dalam kegiatan pembelajaran dan memanfaatkan komputer untuk refleksi diri. Kata Kunci:efektivitas, pembelajaran, refleksi diri.

Penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran merupakan satu faktor yang sangat penting.(Brinton ,2001) memberikan beberapa alasan mengapa guru perlu menggunakan media dalam kegiatan pembelajaran bahasa asing, antara lain:

– Media dapat memberikan konteks situasi.

– Media dapat memberikan input yang otentik

– Mediai membantu guru menyajikan materi secara efisien.

Ketiga hal di atas merupakan contoh alasan mengapa media perlu digunakan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya aspek membaca. Penggunaan media komputer dalam kegiatan pembelajaran juga menjadikan peserta didik dapat senang dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan (Charles & Charles, 2004: 155).

Salah satu keuntungan menggunakan media, terutama media komputer dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah bahwa materi yang disajikan dengan media komputer dapat menyajikan konteks situasi. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik perlu mengetahui konteks situasi di mana suatu ungkapan digunakan.Dalam kegaitan pembelajaran Bahasa Indonesia dikenal ada ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam situasi formal dan ada juga yang digunakan dalam situasi informal.Situasi semacam ini tidak mudah diajarkan kepada peserta didik.Untuk mengatasi kesulitan ini, guru dapat memanfaatkan media komputer. Peran media komputer adalah dapat menyajikan konteks situasi yang nyata yang dapat mendukung

keberhasilan pembelajaran. Penyajian tersebut dapat dilakukan, misalnya dengan gambar atau film yang disajikan melalui media komputer.

Gagasan yang muncul pada beberapa dekade terakhir terkait dengan pembelajaran Bahasa Indonesiaadalah penggunaan bahan atau input yang otentik.Bahan yang otentik adalah bahan yang tidakdimaksudkan atau tidak dikembangkan untukkeperluan pembelajaran. Sebagai contoh, artikeldalam majalah atau koran merupakan bahan yang otentik karena artikel tersebut tidak ditujukan untukkeperluan pembelajaran bahasa.Pemanfaatan bahan otentik sangat bermanfaatkarena bahan-bahan yang dirancang secara khususuntuk kegiatan pembelajaran sering kali tidak sesuaidengan harapan.Ketika peserta didik dihadapkandengan bahan yang otentik, mereka tidak dapatmemahami bahan tersebut dengan baik karena sudah terbiasa dengan bahan yang disederhanakan. Media komputer akan sangat membantu guru dalam menyediakan bahan-bahan yang otentik. Hal ini dapat dilakukan oleh guru, misalnya dengan memanfaatkan Internet untuk pencarian bahanbahan yang mendukung kegiatan pembelajaran.

Keuntungan lain dari penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran, khususnya media komputer, adalah guru dapat menyajikan materi dengan efisien. Banyak hal yang dapat disajikan oleh guru ketika guru mengajar Bahasa Indonesia.Sebagai contoh, guru dapat mengajarkan listening melalui fasilitas MP3 yang terdapat pada komputer relatif mudah pengoperasiannya jika dibandingkan dengan penggunaan tape-recorder.Fasilitas seperti peta, gambar-gambar, dan kamus sangat membantu guru dalam mengajar Bahasa Inggris. Fasilitas-fasilitas tersebut selain menarik bagi peserta didik juga tentu akan menyajikan materi secara lebih riil.

Pembelajaran Berbantuan Komputer  dapat lebih memberdayakan guru dan siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang selama ini dilaksanakan. Hal tersebut disebabkan dengan menggunakan media komputer, memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu bahan dengan cara-cara baru yang lebih interaktif.Komputer dapat menjadi katalisator untuk meraih sasaran-sasaran pendidikan yang telah di tetapkan oleh orang tua, pendidik, dan pemerintah,

Pemanfaatan komputer sebagai sarana pembelajaran dapat memberikan pengaruh yang sangat positif karena selain baru bagi perkembangan teknologi pembelajaran juga memiliki sifat yang representatif dan interaktif. Komputer dapat menjadi sarana pembelajaran yang inovatif, dari tradisi papan tulis dan kapur.Dengan Power Point misalnya, para guru dapat menyulut minat anak-anak terhadap pelajaran lewat penyertaan foto-foto, potongan film, dan bahkan berhubungan dengan internet. (Gates, 2000: 355).

Banyak teori-teori belajar yang berupaya menguraikan cara belajar tiap individu. Kebanyakan teori ini mengidentifikasikan atribut-atribut yang mirip. Uraian yang paling sederhana, ada orang yang belajar lebih baik dengan membaca, ada yang lebih baik lewat mendengarkan, ada yang dengan memperhatikan orang lain mengerjakan tugas, ada pula yang harus mengerjakan tugas itu sendiri. Kebanyakan diantara kita menggunakan beberapa kombinasi dari beberapa cara ini. Dan, semua orang mempunyai tingkat aptitude yang berbeda—selain kepribadian dan pengalaman hidup berbeda-beda—yang mungkin memotivasi atau sebaliknya mendemotivasi cara belajar. Seorang yang secara fisik maupun psikis tidak memiliki kemampuan sebagaimana orang-orang normal (tuna rungu, tuna wicara, dsb), mungkin akan perlu bantuan komputer untuk mengakses bahan-bahan pembelajaran lewat cara baru dengan menggunakan bantuan komputer.

Beberapa perangkat lunak baru dalam bidang komputer memudahkan para siswa belajar dengan gaya belajar atau irama belajar masing masing. Perangkat lunak dapat menyajikan informasi dalam bermacam macam bentuk yang jauh lebih mudah daripada ‘metode-metode kertas’ yang selama ini kita pakai. Perangkat lunak tersebut antara lain: Alteros 3D, Macromedia Director, Power Presentations, Microsoft Office, Web Master, dan masih banyak lagi perangkat lunak lain yang dapat mendukung pemakaian komputer pembelajaran.

Jelasnya, dengan pemanfaatan perangkat-perangkat lunak komputer, dapat membantu mengubah pengalaman belajar dari pendekatan tradisional (guru berbicara di depan kelas, kemudian memberikan tugas membaca) ke pendekatan lebih partisipatif yang memanfaatkan rasa ingin tahu alami para siswa pada semua usia. Melalui komputer ysng terintegrasi dalam pembelajaran, memungkinkan siswa menggali informasi menurut irama mereka sendiri, belajar dari video dan audio selain dari bacaan, bereksperiman dengan model-model, dan bekerja sama dengan sesama siswa sesuai dengan kemauannya. Dalam konteks pendekatan ilmu jiwa disebut pendekatan pemecahan masalah yang diarahkan sendiri, atau sering disebut dengan pendekatan progresif.

John Dewey dan para pembaharu pendidikan, pernah mengusulkan perubahan dari pembelajaran secara didaktik ke pembelajaran lewat pengalaman pada tahun 1899. Upaya membangun pembelajaran lewat pengalaman, tentunya memerlukan media yang representatif, yang ternyata baru dapat diwujudkan sekitar tahun 1968—masa munculnya arphanet—yang kemudian berkembang pesat pada dasa warsa 80-an sampai sekarang. Di Indonesia sendiri baru berkembang baik setelah era 90-an. Semakin maju teknologi, semakin manusiawi pula fungsi dari penggunaan mesin. Jika computer dikombinasikan dengan media lain (multimedia), seperti audio dan video, komputer bahkandapat mejadi lebih interaktif. Komputer juga dapt membangkitkan interksi siswa dan menstimulasi percakapan anatrpasangan atau kelompok siswa guna meningkatkan prestasi belajar ( Ahmad et all, 1985). Komputer juga dinilai dapat digunakan dalam beberapa hal untuk meningkatkan interaksi yang bermanfaat dalam pembelajaran bahasa (Abraham dan Liu, 1991:61).

Salah satu pembelajaran denga menggunakan media computer adalah CALL ( Computer-Assisted Language Learning). Program CALL (Pembelajaran dengan bantuan computer) merujuk pada pembelajaran yang melibatkan penggunaan computer, biasanya dengan piranti system computer interaktif (system hypertext/multimedia) sehingga antara siswa dan computer dapat saling berinteraksi satu sama lain, dan siswa diberi kebebasan untuk memilih topik atau informasi , bahkan untuk memecahkannya sendiri (Hartoyo, 2010). CALL (Computer-Assisted Language Learning ) hakikatnya merupakan penawaran baru dalam cara pembelajaran. Komputer sebagai media akan lebih banyak membantu siswa menemukan hal-hal baru yang lebih menarik dibandingkan dengan cara-cara konvensional yang lebih berpusat pada guru. Walaupun sudah kita ketahui bersama, bahwa cara-cara belajar dan mengajar, serta pemerolehan informasi pembelajaran tiap individu berbeda.

Struktur CALL merupakan program pembelajaran dengan memanfaatkan komputer yang memiliki struktur program diantaranya: desain bentuk (aplikasi perangkat lunak), isi (pesan pembelajaran), dan pendukung (perangkat lunak yang dibutuhkan dalam pengoperasian program, teks, audio, video, grafis, dan sebagainya). Keseluruhan komponen terintegrasi dalam sebuah program dengan memperhatikan: kemudahan pengoperasian, interaktivitas, kemenarikan, dan dukungan perangkat evaluai untuk mengukur tingkat pemahaman siswa seperti Multiple Choice System, atau perangkat lunak sejenisnya.

Secara keseluruhan, CALL hendaknya memiliki beberapa kriteria, diantaranya: dari sudut pandang guru adalah: mudah digunakan (baik pembuatan maupun pemanfaatannya), hanya memerlukan pelatihan minimal, memungkinkan pembelajaran dengan cara siswa sendiri, memungkinkan pengendalian pembelajaran sesuai dengan lingkungan. Sedangkan dari sudut pandang siswa: fleksibilitas, bahan belajar lebih kaya dibandingkan melalui kelas konvensional, berjalan pada komputer yang telah tersedia, memungkinkan kolaborasi yang memadai, mencakup pengembangan materi lanjutan melalui diskusi kelas dan kerja kelompok. Dengan demikian struktur program CALL harus bersifat dapat terus dikembangkan (scalable) (NeoEdu, 2000: 35).Berikut adalah scema langkah-langkah untuk mengintegrasikan komputer ke dalam pembelajaran. (Gates, 2000: 356).

Hartoyo (2006) menyarankan bahwa untuk merancang program CALL, sebuah perencanaan cermat yang menuat beberapa tugas perlu dilaksanakan. Langkah-langkah dalam dalam mengembangkan program CALL adalah : 1) perencanaan awal; 2) menentukan tujuan; 3) memilih tipe program; 4) memilih materi; 5) memilih software; 6) menentukan tugas; 7) merancang struktur program. Terdapat beberpa prinsip yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan program CALL seperti : 1) interaktivitas; 2) kegunaan; 3) keberterimaan; 4) keefektifan; dan 5) penampialn.

Seperti pada aspek lainnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, aspek membaca sangat efektif bila menggunakan media perangkat komputer.Dengan media komputer, siswa dapat mendapatkan aneka informasi sebagai bahan bacaan melalui browsing internet.Selama ini siswa telah jenuh mendapatkan informasi yang mungkin menurut mereka tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan zamannya, karena sumber bacaan tersebut didapat dari buku paket yang telah disiapkan oleh guru.

Pemahaman bacaan menurut Harjasujana dan Damaianti (2003:134-136) meliputi pemahaman kalimat-kalimat.Pemahaman tentang kalimat-kalimat itu meliputi pula kemampuan menggunakan teori tentang hubungan-hubungan struktural antarkalimat. Pengetahuan tentang hubungan struktural itu berguna bagi proses pemahaman kalimat, sebab kalimat bukanlah untaian kata-kata saja melainkan untaian kata yang saling berkaitan mengikuti cara-cara yang spesifik.

Hubungan-hubungan struktural yang penting untuk memahami makna kalimat itu tidak hanya diberikan dalam struktur luar, tetapi juga diberikan dalam struktur isi kalimat. Pemahaman kalimat tidak akan dapat dilakukan dengan baik tanpa dukungan pemahaman atas hubungan isi antarkalimat tersebut. Untuk itu, agar memiliki keterbacaan yang tinggi, kalimat yang disusun dalam suatu wacana harus selalu memperhatikan unsur struktur luar, struktur isi, dan hubungan antarkeduanya.

Masalah yang berhubungan dengan pengaruh struktur kalimat terhadap proses membaca ada dalam bidang yang sangat khusus, yakni keterbacaan (Harjasujana dan Damaianti, 2003:4). Berbicara tentang keterbacaan, setiap penyusun wacana atau buku bacaan, baik fiksi maupun nonfiksi, harus mendasarkan diri pada orientasi teoretis, yakni masalah struktur kalimat dan kosakata.Seperti dikemukakan oleh Sakri (1993:135), keterbacaan (readability) bergantung pada kosakata dan bangun kalimat yang dipilih oleh pengarang untuk tulisannya.Tulisan yang banyak mengandung kata yang tidak umum lebih sulit dipahami daripada yang menggunakan kosakata sehari-hari.Tentang hal ini telah dijelaskan pada penjelasan tentang kosakata baca. Demikian pula, bangun kalimat yang panjang dan kompleks akan menyulitkan pembaca yang tingkat perkembangan usianya berbeda.

Uraian-uraian di atas mengimplikasikan bahwa penyusunan bacaan yang menurut pengarang sudah sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak, namun tanpa mengindahkan penguasaan kosakata dan kalimat yang digunakan dalam suatu wacana yang mereka kenal, maka bacaan tersebut akan gagal dalam hal keterbacaannya.

Pengukuran terhadap penguasaan kosakata dan kalimat dalam bacaan oleh anak amat penting dilakukan sebagai dasar penyusunan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.Hal ini disebabkan oleh bahwa membaca berarti memahami isi (deepstructure) bacaan.Sarana pemahaman tersebut adalah struktur luar (surface structure).

Ada yang berpendapat bahwa panjang kalimat sebagai unsur utama yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam kegiatan membaca.Oleh karena itu, panjang kalimat dijadikan alat ukur tingkat keterbacaan sebuah wacana, dan biasanya dijadikan unsur utama dalam formula-formula keterbacaan.Kalimat-kalimat yang kompleks pada umumnya panjang-panjang.

Menurut susunan kalimatnya, kalimat tunggal lebih mudah dipahami maknanya atau maksudnya daripada kalimat majemuk.Hal ini disebabkan kalimat majemuk lebih rumit daripada kalimat tunggal.

Dari pendapat para ahli di atas tentang pengertian, tujuan, proses, dan pembelajaran membaca, serta pemahaman  dapat disimpulkan pemahaman bacaan adalah pengertian yang diperoleh dari aktivitas membaca. Aktivitas ini melibatkan pembaca, teks, dan isi pesan yang disampaikan penulis. Seseorang dapat dikatakan memahami bacaan apabila ia telah mendapatkan informasi atau pesan yang disampaikan oleh penulis, baik tersurat maupun tersirat.

Media komputer sangat efektif dalam pembelajaran membaca untuk meningkatkan pemahaman dan menambah pengetahuan  siswa. Dari media komputer, misalnya pemanfatan sarana internet yang tersedia, siswa dan guru dapat memilih tema bacaan yang tersaji tanpa batas dengan cara membrowsing. Misalnya guru menetapkan bahwa tema bacaan tentang Global Warming, maka siswa akan mencari sumber informasi tentang tema tersebut melalui layanan internet. Akibatnya masing-masing siswa mendapatkan sumber informasi yang beragam dengan tema yang sama. Selanjutnya para siswa saling bertukar informasi tantang tema yang sama. Dengan kata lain, dengan memanfaatkan media komputer, siswa terlihat aktif dalam proses pembelajaran di kalas.

Dalam rangka melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif, guru tentu menghadapi

berbagai permasalahan. Guru sering tidak tahu apakah kegiatan pembelajaran yang dilakukan sudah efektif atau belum. Untuk itu, guru perlu mencoba mengetahui kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam kegiatan pembelajarannya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengetahui permasalahan dalam kegiatan pembelajaran, misalnya dengan meminta teman lain melakukan pengamatan di dalam kelas ketika dia sedang mengajar. Namun, hal ini pada umumnya kurang diminati oleh guru karena mereka merasa sungkan dan kurang nyaman ketika diamati oleh pihak lain dalam kegiatan pembelajaran. Apalagi, tujuan pengamatan tersebut adalah untuk mengetahui kekurangan-kekurangannya. Di samping itu, sering muncul apa yang oleh Bailey (2001) disebut the observer’s paradox, yaitu ketika guru diamati, perilakunya sering berubah, tidak seperti  perilaku yang biasa dilakukan. Langkah yang dipandang membantu guru dan tidak menimbulkan kegelisahan di kalangan guru adalah dengan melakukan kegiatan refleksi diri. Bahkan berdasarkan mandat yang diberikan oleh Undang-Undang No 14 tahun 2005 pasal 7 ayat 1, guru sebagai tenaga profesional memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas profesional. Salah satu tanggung jawab profesinal guru adalah dengan mengajar secara efektif dan hal ini dimulai dengan mencermati apakah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sudah efektif atau belum dan kalau belum, langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa refleksi diri bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan oleh guru. Permasalahan yang timbul adalah guru sering tidak tahu hal-hal apa saja yang harus direfleksi dan bagaimana cara melakukan refleksi. Kalaupun guru sudah melakukan refleksi diri dan kemudian menemukan kekurangan dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Untuk membantu guru melakukan refleksi, Agus Widyantoro dalam draft disertasinya mencoba mengembangkan perangkat refleksi diri berbantuan komputer untuk guru Bahasa Indonesia.

Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang refleksi diri. Salah satu definisi tersebut adalah yang dikemukakan oleh Murphy (2001: 500), yaitu: “an approach to secondlanguage (L2) classroom instruction in which current and prospective teachers ‘collect data about teaching, examine their attitudes, beliefs, assumptions, and teaching practices, and use theinformation obtained as a basis for critical reflection’ about their efforts in language courses.”

Definisi tersebut menyiratkan bahwa dalam kegiatan refleksi diri, guru mencoba mengumpulkan data tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukan.Tujuannya adalah untuk melakukan refleksi kritis terhadap kegiatan pembelajaran yang telah diaksanakan.

Airasian dan Gullickson (2006) menyampaikan beberapa alasan mengapa guru perlu melakukan

refleksi diri. Di antara alasan tersebut adalah:

– Refleksi diri merupakan tanggung jawab profesional.

– Refleksi diri terfokus pada pengembangan keprofesionalan dan perbaikan di tingkat kelas

– Refleksi diri memungkinkan bagi guru untuk menyadari kelebihan dan kekurangan yang

dialami dalam kegiatan pembelajaran.

– Refleksi diri mendorong guru untuk melakukan pengembangan diri secara berkelanjutan dan

mendorong guru untuk tidak terjebak dalam keyakinan, kegiatan rutin, dan metode yang tidak

pernah berubah.

Di  antara beberapa alasan yang dikemukakan oleh Airasian dan Gullickson tersebut, jelas bahwa refleksi diri sangat bermanfaat bagi guru, terutama untuk membantu guru secara mandiri berupaya untuk meningkatkan efektivitas pembelajarannya. Melalui kegiatan refleksi diri, guru dapat menemukan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam kegiatan pembelajarannya dan guru dapat berupaya untuk menutup kekurangan-kekurangan tersebut agar pembelajaran yang dilaksanakan berlangsung secara efektif.

PERANGKAT REFLEKSI DIRI BERBANTUAN KOMPUTER

Perangkat refleksi diri berbantuan komputer yang dikembangkan meliputi beberapa unsur, yaitu:

1. Instrumen

Instrumen ini merupakan bagian penting dari perangkat refleksi diri yang dikembangkan.Melalui instrumen ini guru disadarkan pada karakteristikkarakteristik penting dalam kegiatan pembelajaran yang menunjukkan apakah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah efektif atau belum. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah:

2. Kesesuaian dengan tujuan

Kegiatan pembelajaran baru dikatakan efektif jika kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan. Dengan kata lain, kegiatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran dapat dipastikan tidak efektif. Tujuan di sini dapat merupakan tujuan yang sifatnya umum tetapi juga dapat tujuan yang sifatnya khusus.

3. Ketepatan

Karakteristik kedua yang dicantumkan dalam instrumen adalah ketepatan.Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh guru harus tepat. Kegiatan tersebut antara lain: langkah-langkah pembelajaran, penugasan kepada peserta didik, penanganan kesalahan dan pemberian umpan balik dalam bentuk pujian.

4. Kejelasan

Karakteristik ketiga adalah kejelasan.Beberapa ahli (Borich, 2000; Brown, 2001; Harris, 2002; Richards dan Lockhart, 1996) menyatakan pentingnya guru menyajikan materi pembelajaran dengan jelas.Kejelasan juga perlu ditunjukkan oleh guru dalam perintah yang diberikan kepada peserta didik.

5. Variasi

Pembelajaran yang efektif menunjukkan adanya variasi.Pembelajaran yang berlangsung monoton dapat dipastikan bukan merupakan pembelajaran yang efektif.Variasi ditunjukkan dalam teknik pembelajaran (Brown, 2001); dalam kegiatan (Borich, 2000); dan variasi media yang digunakan (Borich, 2000).

6. Kemenarikan

Karakteristik-karakteristik yang telah disampaikan di atas merupakan karakteristik yang penting bagi terciptanya pembelajaran yang efektif. Meskipun demikian, ada karakteristik lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu kemenarikan. Ketika guru mengajar, dia perlu berupaya agar kegiatankegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran menarik bagi peserta didik.

7. Kekurangan dan saran

Satu hal yang dicoba ditampilkan dalam perangkat refleksi diri berbantuan komputer adalah adanya dimunculkan saran-saran bagi guru setelah guru menyadari adanya kekurangan dalam kegiatan pembelajarannya. Saran-saran ini dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan yang muncul ketika,guru melakukan refleksi diri tanpa bantuan komputer. Pada saat guru menemukan kekurangan dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak dapat serta merta memperoleh saran-saran perbaikan. Kalau guru menginginkan saran, dia harus menemui teman sejawat, kepala sekolah, atau pihak lain untuk memperoleh saran perbaikan.

8. Dasar teori

Bagian ini merupakan upaya untuk memberikan pencerahan kepada guru.Dasar teori yang dicantumkan dikaitkan dengan saran-saran yang diberikan.Dasar teori ini diberikan karena saran-saran terkait dengan kekurangan guru masih sangat umum.Saran yang diberikan mungkin tidak berlaku dalam semua situasi.Di samping itu, sangat disadari sepenuhnya bahwa kegiatan pembelajaran di dalam kelas merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang melibatkan berbagai faktor.Oleh karena itu, tidak ada pemecahan masalah yang sifatnya pasti.Bagian dasar teori dimaksudkan untuk membantu guru mencari solusi alternatif di samping saran-saran yang telah diberikan.Dasar teori yang diambil dari pendapat berbagai ahli dalam bidang pembelajaran diharapkan dapat menjadi acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif.

III. Simpulan

Pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya aspek membaca disertrtai refleksi dari guru  akan efektif dan efisien dengan menggunakan media computer karena dengan media computer, khususnya fasilitas internet, siswa dapat membrowsing informasi  terkini yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Selain itu, dengan media computer, refleksi diri sangat bermanfaat bagi guru, terutama untuk membantu guru secara mandiri berupaya untuk meningkatkan efektivitas pembelajarannya. Melalui kegiatan refleksi diri, guru dapat menemukan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam kegiatan pembelajarannya dan guru dapat berupaya untuk menu kekurangan-kekurangan tersebut agar pembelajaran yang dilaksanakan berlangsung secara efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Abraham, Robert G.&Hsien Chin Liou. 1991. Interaction Generated by Three ComputerPrograms: Analysis of Functions of Spoken Language. In Patricia Dunkel (Ed). Computer Asisted Language Learning and Testing: Research Issues and Practices. USA: Newburry House

Ahmad, K. et. All. 1985. Computer Language Learning and Language Teaching. Cambridge Cambridge University Press.

Borich, G.D. 2000. Effective teaching methods. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Brinton, D.M. 2001. The Use of Media in Language Teaching. In Marianne Celce-Murcia

(Ed.). Teaching English as a Second or Foreign Language. Ontario: Heinle & Heinle.

Brown, H.D. 2001. Teaching by Principles. New York: Addison Wisley Longman, Inc.

Charles, C.M. & Charles, M. 2004. Classroom Management for Middle-grades Teachers.

Boston: Pearson Education, Inc.

Harjasujana, Akhmad Selamat dan Vismala S. Damaianti. 2003. Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara.

Hartoyo. 2010. Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dalam Pembelajaran Bahasa. Semarang: Pelita Insani.

Murphy, J.M. 2001. Reflecting Teaching in ELT. In Marianne Celce-Murcia (Ed.). Teaching English as a Second or Foreign Language. Ontario: Heinle & Heinle.

Richards, J.C. & Lockhart, C. 1996. Reflective Teaching in Second Language Classrooms. Cambridge: Cambridge University Press.

Wisnu, Fajar.2007. Indeks Pendidikan Indonesia Menurun. http://stembasurabaya. WordPress. Com/2007/12/3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s