tugas mata kuliah menyimak

TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH MENYIMAK

DOSEN         : Prof. Dr. Yoce Aliyah, M. Pd.

Nur Kamala

Rita Melawati

PERANAN MENYIMAK DALAM BERBAHASA

Menyimak Sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa

Kalau kita mempelajari sesuatu bahasa maka kita dapat mempelajari tentang bahasa tersebut, dan dapat mempelajari cara menggunakan bahasa itu. Istilah mempelajari tentang bahasa berarti mempelajari semua teori-teori bahasa dimaskud. Misalnya, kita dapat mempelajari kaidah-kaidah ucapan, kaidah pembentukan kata, sejarah perkembangan bahasa ataupun teori-teori yang lain. Tetapi kalau mempelajari cara berbahasa berarti belajar praktik menggunakan bahasa tersebut.

Dalam tulisan ini dibahas tentang penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi dengan anggota-anggota masyarakat yang lain (belajar terampil menggunakan bahasa). Dalam hal ini ada empat aspek keterampilan berbahasa yang masing-masing mempunyai sifat khusus di samping adanya sifat-sifat kesamaan. Oleh karena itu, keempat jenis aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan antarsatu dengan yang lain. Keempat aspek keterampilan berbahasa yang dimaksud ialah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Jadi, hubungan atau keterkaitan keempat keterampilan itu dapat dilihat dalam bagan berikut.

menyimak

langsung

apresiatif

reseptif

fungsional

 

Komunikasi

tatap muka

berbicara

langsung

produktif

ekspresif

Keterampilan Berbahasa

tak langsung

produktif

ekspresif

menulis

 

Komunikasi

tidak tatap muka

tak langsung 

apresiatif

fungsional

membaca

Dari bagan di atas nampak bahwa bahasa sebagai alat komunikasi ada yang bersifat lisan dan ada yang bersifat tulisan. Baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan di dalamnya terkandung makna yang dapat menimbulkan respon atau tanggapan dari orang lain yang mendengarkan atau membacanya. Dari bagan itu pula nampak adanya keterampilan reseptif dan keterampilan produktif. Keterampilan menyimak dan keterampilan membaca disebut sebagai keterampilan reseptif karena selama berlangsungnya kegiatan, si  penyimak dan atau si pembaca hanya aktif menerima, menangkap, memahami dan mengingat ujaran yang disampaikan. Sebaliknya keterampilan berbicara dan keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif, karena orang yang melakukan kegiatan berbicara dan menulis secara aktif memproduksi ide-ide, informasi-informasi, perasaan ataupun yang lainnya dengan menggunakan bahasa supaya dapat didengarkan, dibaca, dan ditanggapi oleh orang lain.

Keterampilan menyimak merupakan aspek keterampilan berbahasa yang sangat esensial, sebab keterampilan menyimak merupakan dasar untuk menguasai sesuatu bahasa. Hal ini bukan saja bahasa ibu, melainkan juga untuk bahasa kedua dan bahasa asing. Di samping itu, keterampilan menyimak merupakan dasar untuk keberhasilan belajar membaca dan menulis. Sewaktu belajar membaca, petunjuk-petunjuk boleh dikatakan selalu disampaikan dengan bahasa lisan. Ini berarti siswa harus menyimak. Dalam kaitan ini pula penguasaan kosakata sangat berpengaruh, baik pada kegiatan menyimak maupun kegiatan menulis.

Hakikat Menyimak

Dalam tulisan ini ada beberapa kata yang perlu mendapat perhatian, yaitu mendengar, mendengarkan, dan menyimak. Mendengar berarti dapat menangkap bunyi (dengan telinga) tanpa adanya unsur kesengajaan; mendengarkan berarti mendengar sesuatu bunyi tetapi dibarengi dengan adanya unsur kesengajaan, sedangkan menyimak berarti mendengarkan dengan baik-baik, dengan penuh perhatian akan apa yang diucapkan seseorang, yang dibarengi suatu kesanggupan untuk mengingat dan memahami isi pesan.

Keterampilan menyimak yang baik menyangkut sikap, ingatan, persepsi, kemampuan membedakan, intelegensi, perhatian, motivasi, dan emosi harus dilaksanakan secara integral dalam tindakan yang optimal pada saat penyimakan berlangsung. Menyimak yang memadai merupakan basis kemampuan berbicara yang sangat penting dan juga merupakan dasar untuk keberhasilan kemampuan membaca dan menulis.

Tujuan Menyimak

Telah diuraikan di depan bahwa menyimak memiliki tujuan. Tujuan tersebut terkait dengan aktivitas penyimak. Salah satu aktivitas penyimak ialah memahami pesan yang disampaikan pembicara. Pemahaman yang dilakukan penyimak meliputi dua aspek, yaitu (a) pemahaman pesan dan tanggapan pembicara, (b) tanggapan penyimak terhadap pesan sesuai dengan kehendak pembicara.

Berdasarkan aspek tersebut dapat dirinci lebih jauh tentang tujuan menyimak, antara lain: (1) menyimak untuk mendapatkan fakta, (2) menyimak untuk menganalisis fakta, (3) menyimak untuk mengevaluasi fakta, (4) menyimak untuk mendapatkan  inspirasi, (5) menyimak untuk mendapatkan hiburan, dan (6) menyimak untuk memperbaiki kemampuan berbicara (Universitas Terbuka, 1985: 21). Berikut ini adalah jabaran dari masing-masing tujuan itu.

1) menyimak untuk mendapatkan fakta

Untuk mendapatkan fakta, Anda dapat melakukan berbagai cara. Salah satu cara ialah dengan menyimak. Sarana yang dipergunakan dalam menyimak untuk mendapatkan fakta di antaranya dapat dilakukan melalui radio, televisi, pertemuan ilmiah, dan ceramah.

Dari berbagai sarana itu, dapat diperoleh berbagai fakta. Misalnya: para petani dapat mendengarkan siaran radio pertanian yang disiarkan oleh pemerintah secara nasional untuk mendapat informasi pertanian.

2) menyimak untuk menganalisis fakta

Yang  dimaksudkan dengan menganalisis fakta ialah menguraikan fakta atas unsur-unsur untuk pemahaman secara menyeluruh. Tujuan utama analisis fakta ialah untuk memahami makna dari segi yang paling kecil. Dengan demikian, Anda sebagai penyimak dapat memahami setiap aspek fakta, sehingga fakta tersebut dapat dipahami dengan baik.

Pemahaman makna fakta dapat Anda lakukan dengan secermat-cermatnya melalui makna setiap kata, frase, kalimat, dan wacana. Hal itu dapat Anda lakukan dengan cara mendengarkan sungguh-sungguh. Akan tetapi, Anda sebagai penyimak juga dapat menyadari bahwa Anda tidak mungkin akan menganalisis semua fakta yang tertangkap oleh indera pendengar dan yang masuk ke dalam otak manusia.

3) menyimak untuk mengevaluasi fakta

Evaluasi fakta dapat Anda lakukan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: (a) bernilaikah fakta-fakta itu?, (b) Sahihkah fakta-fakta itu? (c) Adakah relevansi fakta-fakta tersebut dengan pengetahuan dan pengalaman penyimak?

Jika fakta yang Anda terima sebagai penyimak itu Anda rasakan bernilai, akurat, dan ada relevansinya dengan pengetahuan dan pengalaman Anda, fakta-fakta tersebut dapat Anda gunakan untuk menambah pengetahuan. Jika fakta tersebut tidak sesuai, fakta-fakta tersebut perlu Anda tolak. Jadi, fungsi utama penyimak mengevaluasi fakta adalah untuk memutuskan apakah fakta-fakta tersebut akan diterima atau ditolaknya.

4) menyimak untuk mendapatkan inspirasi

Istilah inspirasi sering digunakan sebagai alasan seseorang untuk melakukan kegiatan menyimak. Inspirasi biasanya dapat diperoleh melalui kegiatan menyimak ceramah, televisi, pertemuan-pertemuan ilmiah, pertemuan reuni, pertemuan para bintang artis, diskusi, debat, dan lain sebagainya.

Seorang pembicara yang inspiratif ialah pembicara yang selalu berusaha mendorong, memotivasi, menyentuh emosi, memberikan semangat, dan membangkitkan kegairahan penyimak untuk mendapatkan inspirasi. Pada akhirnya, penyimak tergugah emosinya terhadap hal-hal yang disampaikan pembicara.

Untuk mendapatkan inspirasi tentang penciptaan puisi, Anda sebagai penyimak dapat menyimak pembacaan puisi, rekaman deklamasi, mengikuti lomba membaca puisi, dan lain sebagainya. Semakin banyak kegiatan menyimak tentang puisi, inspirasi tentang puisi semakin besar.

5) menyimak untuk mendapatkan hiburan

Hiburan dapat Anda peroleh melalui menyimak seperti menyimak lagu-lagu dari radio, televisi, rekaman tape recorder, rekaman VCD, atau dapat juga diperoleh melalui kegiatan menyimak ceramah atau pidato. Radio merupakan hiburan yang paling murah bagi sebagian masyarakat Indonesia. Selain radio, sarana hiburan murah yang lain ialah televisi. Kehebatan sarana hiburan televisi ialah selain menyajikan suara yang bisa disimak, sarana itu menyajikan gambar karena televisi merupakan gabungan antara audio dan visual.

Dalam suatu ceramah atau pidato, jika pembicara ingin berhasil, ia juga harus dapat menghibur penyimaknya atau memberikan rasa senang kepada penyimak. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media pembantu atau dengan kata-kata yang lembut, penuh perhatian/ dukungan, diksi yang tepat, dan dapat juga dengan selingan humor.

6) menyimak untuk memperbaiki kemampuan berbicara

Kosakata hasil simakan seseorang akan berpengaruh terhadap kemampuan berbicaranya. Semakin banyak kosakata yang Anda kuasai melalui menyimak, akan semakin tinggi pula kemampuan Anda berbicara. Anda tahu, bahwa pada awal usianya, seorang anak akan mengenal kata-kata dan belajar berbicara dari hasil simakan mereka.

Berkaitan dengan tujuan menyimak untuk memperbaiki kemampuan berbicara ini, seorang pembicara diharapkan dapat: (a) mengorganisasikan bahan pembicaraan, (b) menyampaikan bahan, (c) memikat perhatian penyimak, (d) mengarahkan, (e) menggunakan alat-alat bantu, seperti mik, alat peraga, dan sebagainya, dan (f) memulai dan mengakhiri pembicaraan (Sutari, dkk, 1998: 27). Dalam hal ini, penyimak yang bertujuan memperbaiki keterampilan berbicaranya diharapkan dapat memahami keenam komponen itu pada saat menyimak.

Tahapan Menyimak

Ruth G. Strickland (dalam Tarigan, 1990: 29) menyimpulkan adanya sembilan tahap menyimak, mulai dari yang tidak berketentuan sampai pada yang amat bersungguh-sungguh. Kesembilan tahap dimaksud adalah sebagai berikut.

1)            Menyimak berkala, yang terjadi pada saat-saat anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.

2)            Menyimak dengan perhatian dangkal karena sering mendapat gangguan dengan adanya selingan-selingan perhatian kepada hal-hal di luar pembicaraan.

3)            Setengah menyimak karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hati, mengutarakan apa yang terpendam dalam hati sang anak.

4)            Menyimak serapan karena sang anak keasyikan menyerap atau mengabsorpsi hal-hal yang kurang penting, jadi merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya.

5)            Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang disimak; hanya memperhatikan kata-kata sang pembicara yang menarik hatinya saja.

6)            Menyimak asosiatif; hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan, yang mengakibatkan sang penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan pembicara.

7)            Menyimak dengan reaksi berkala terhadap pembicara dengan membuat komentar ataupun mengajukan pertanyaan.

8)            Menyimak secara saksama, dengan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang pembicara.

9)            Menyimak secara aktif untuk mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan sang pembicara.

Untuk menjadi bahan perbandingan serta sebagai perluasan cakrawala kita tentang tahap-tahap menyimak yang telah dikemukakan di atas, dapat dilihat dalam buku Menyimak:  Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Tarigan, 1990: 30-34).

Jenis-jenis Menyimak

Secara garis besar, Tarigan (1990: 35) membagi jenis menyimak itu menjadi beberapa macam, antara lain: (1) menyimak ekstensif dan (2) menyimak intensif. Kedua jenis menyimak itu sangat berbeda. Perbedaan itu tampak dalam cara melakukan kegiatan menyimak. Menyimak ekstensif lebih banyak dilakukan oleh masyarakat umum. Misalnya: orang tua dan anak-anak menyimak tayangan sinetron dari televisi, berita radio dan lain sebagainya.

Menyimak intensif lebih menekankan kemampuan memahami bahan simakan. Misalnya dalam menyimak materi kuliah, dosen  biasanya menuntut agar mahasiswanya memahami penjelasannya. Selanjutnya, untuk mengukur daya serap mahasiswa, dosen memberikan pertanyaan.

1.5.1  Menyimak Ekstensif

Menyimak ekstensif ialah proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mendengarkan siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, khotbah di masjid, pengumuman di stasiun kereta api, dan sebagainya. Ada beberapa jenis kegiatan menyimak ekstensif, antara lain berikut ini.

a) Menyimak Sosial

Menyimak sosial dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial, seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. Kegiatan menyimak ini lebih menekankan pada faktor status sosial, unsur sopan santun, dan tingkatan dalam masyarakat. Misalnya: seorang anak Jawa menyimak nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran.

b) Menyimak sekunder

Menyimak sekunder terjadi secara kebetulan. Misalnya: jika seorang pembelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orang lain, suara siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara tersebut.

c) Menyimak Estetika

Menyimak estetika sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika ialah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu. Misalnya: menyimak pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, syair lagu, dan sebagainya.

d) Menyimak Pasif

Menyimak pasif ialah menyimak suatu bahasan yang dilakukan tanpa upaya sadar. Misalnya: dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak pasif. Namun, pada akhirnya orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik.

Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif terjadi karena kebetulan dan ketidaksengajaan.

1.5.2  Menyimak Intensif

Menyimak intensif merupakan kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tingkat konsentrasi yang tinggi untuk menangkap makna yang dikehendaki. Berikut ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan menyimak intensif.

a) Menyimak intensif ialah menyimak pemahaman

Pemahaman ialah proses memahami suatu objek. Pemahaman dalam menyimak merupakan proses memahami suatu bahan simakan.

Pada dasarnya orang melakukan kegiatan menyimak intensif dengan tujuan untuk memahami makna bahan yang disimak dengan baik. Pemahaman merupakan prioritas pertama. Hal itu berbeda dengan menyimak ekstensif yang lebih menekankan hiburan, kontak sosial, ketidaksengajaan, dan lain sebagainya. Jadi prioritas menyimak intensif ialah memahami makna pembicaraan.

b) Menyimak intensif memerlukan konsentrasi tinggi

Konsentrasi ialah memusatkan semua gejala jiwa seperti pikiran, perasaan, ingatan, perhatian, dan sebagainya kepada salah satu objek. Dalam menyimak intensif diperlukan pemusatan gejala jiwa menyeluruh terhadap bahan yang disimak.

Agar penyimak dapat melakukan konsentrasi yang tinggi, maka perlu dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: (a) menjaga agar pikiran tidak terpecah, (b) perasaan tenang dan tidak bergejolak, (c) perhatian terpusat pada objek yang sedang disimak, (d) penyimak harus mampu menghindari hal-hal yang mengganggu kegiatan menyimak, baik internal maupun eksternal.

c) Menyimak intensif ialah memahami bahasa formal

Bahasa formal ialah bahasa yang digunakan dalam situasi formal. Yang dimaksudkan dengan situasi formal ialah situasi komunikasi resmi. Misalnya: ceramah, diskusi, berdebat, temu ilmiah dan lain sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam ceramah ilmiah, temu ilmiah, atau diskusi ialah bahasa resmi atau bahasa baku. Bahasa baku lebih menekankan makna.

d) Menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan

Reproduksi ialah kegiatan mengungkapkan kembali sesuatu yang telah dipahami. Untuk membuat reproduksi dapat dilakukan secara (1) lisan (berbicara) dan (2) tulis (menulis, mengarang).

Reproduksi dilakukan setelah menyimak. Fungsi reproduksi itu antara lain: (1) mengukur kemampuan integratif antar menyimak dan berbicara, (2) mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan menulis atau mengarang, (3) mengetahui kemampuan daya serap seseorang, (4) mengetahui tingkat pemahaman seseorang tentang bahan yang telah disimak.

Menyimak intensif merupakan salah satu kegiatan menyimak yang terdiri atas beberapa jenis. Berikut ini dikemukakan jenis-jenis menyimak intensif.

(1)    Menyimak Kritis

Menyimak kritis ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebenaran, dan kelebihan serta kekurangan-kekurangannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak kritis: (a) mengamati tepat tidak ujaran pembicaraan, (b) mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa menyimak?” dapatkah penyimak membedakan antara fakta dan opini dalam menyimak? Dapatkah penyimak menafsirkan makna idiom, ungkapan, dan majas dalam kegiatan menyimak? (Kamidjan, 2000: 212).

(2)    Menyimak Konsentratif

Menyimak konsentratif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang disimak.

Kegiatan menyimak konsentratif bertujuan untuk: (a) mengikuti petunjuk-petunjuk, (b) mencari hubungan antarunsur dalam menyimak, (c) mencari hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen, (d) mencari urutan penyajian dalam bahan menyimak, dan (e) mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak.

(3)    Menyimak Eksploratif

Menyimak eksploratif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Pada akhir kegiatan, seorang penyimak eksploratif akan: (a) menemukan gagasan baru, (b) menemukan informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, (c) menemukan topik-topik baru yang dapat dikembangkan pada masa yang akan datang, dan (d) menemukan unsur-unsur bahasa yang bersifat baru.

(4)    Menyimak Kreatif

Menyimak kreatif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas pembelajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara: (a) menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau bahasa daerah, misalnya bahasa Inggris, (b) mengemukakan gagasan yang sama dengan pembicara, namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang berbeda, (c) merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, (d) menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasarkan materi yang telah disimak.

(5)    Menyimak Interogatif

Menyimak interogatif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi. Kegiatan menyimak interogatif bertujuan untuk: (a) mendapatkan fakta-fakta dari pembicara, (b) mendapatkan gagasan baru yang dapat dikembangkan menjadi sebuah wacana yang menarik, (c) mendapatkan informasi apakah bahan yang telah disimak itu asli atau tidak.

(6)    Menyimak Selektif

Menyimak selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus untuk mengenal bunyi-bunyi asing, nada, suara, dan bunyi-bunyi homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk bahasa yang sedang dipelajarinya.

Menyimak selektif memiliki ciri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan menyimak yang lain. Adapun ciri menyimak selektif ialah: (a) menyimak dengan saksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan, (b) menyimak dengan memperhatikan topik-topik tertentu, dan (c) menyimak dengan memusatkan pada tema-tema tertentu.

Implikasi Menyimak dengan Pengajarannya

Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa, ada pendekatan bahasa dari segi fungsi (bahasa sebagai alat komunikasi). Pendekatan ini telah banyak diterima oleh guru-guru bahasa. Implikasinya ialah menyadarkan guru-guru bahasa akan tugas mereka untuk mengajarkan kepada siswa: fungsi bahasa, alat-alat pelancar berbahasa, serta idiom-idiom yang ada, sebagai alat untuk berkomunikasi. Begitu pula perlu dipahami bahwa komunikasi merupakan suatu proses yang melibatkan paling sedikit dua orang.

Pembicaraan sebagai proses komunikasi tidak berdiri sendiri selama apa yang dibicarakan itu perlu dipahami oleh orang lain. Kesukaran terbesar bagi orang-orang yang belum lancar berkomunikasi dalam kaitannya dengan bahasa ialah adanya tekanan emosi, karena hal tersebut dapat menyebabkan orang lain itu tidak memahami apa yang sedang dikatakan kepada mereka ataupun kepada sekeliling mereka.

Suatu hal yang sering dilupakan dalam membina kemampuan komprehensi menyimak adalah masalah-masalah khusus yang timbul oleh adanya kegaduhan, ataupun materi-materi yang tidak relevan dengan bahan pembicaraan.

PRASYARAT MENYIMAK

2.1  Faktor-Faktor Menyimak

Seorang pembicara yang baik harus tahu prasyarat apa saja yang harus dipenuhi supaya sesorang itu dapat menyimak dengan baik, sehingga komunikasi dapat berlangsung secara lancar. Faktor-faktor yang dapat berpengaruh agar seseorang itu mampu menyimak secara efisien bergantung pada banyak hal, selain pada kualitas pembicaraan yang sungguh-sungguh baik, pribadi masing-masing penyimak juga sangat menentukan. Faktor-faktor tersebut ialah (i) sikap penyimak, (ii) perhatian penyimak, (iii) motivasi penyimak, serta (iv) keadaan emosi penyimak.

2.1.1  Keberhasilan menyimak sangat bergantung pada sikap

Memang bukan faktor tunggal saja yang mempengaruhi keberhasilan menyimak secara efisien, namun sikap penyimak mempunyai pengaruh yang sangat besar. Apakah sikap itu sikap objektif ataukah sikap subjektif.

Menyimak yang efisien menuntut beberapa prasyarat sikap, yaitu objektif, tidak berpihak dan sikap kooperatif. Andaikata penyimak itu mempunyai sikap prasangka, pasti ia hanya akan mendengarkan fakta-fakta atau pendapat-pendapat yang cocok dengan keyakinannya sendiri. Orang-orang yang bersikap dogmatis biasanya menyebabkan penyimak-penyimak  menjadi “miskin”, mereka biasanya menolak mendengarkan pandangan-pandangan yang berlawanan disebabkan oleh prasangka mereka.

Seseorang itu mungkin saja objektif  pada beberapa pernyataan, tetapi subjektif pada pernyataan yang lain. Banyak orang yang sulit memelihara sikap objektifnya, bila kepentingan mereka dipertaruhkan. Sering-sering sikap politik, ekonomi, sosial terbentuk pada seseorang dalam kehidupan yang masih sangat muda sebagai hasil dari lingkungannya. Kita umumnya tidak senang bila pendapat-pendapat tertentu kita mengalami tantangan dalam wujud pernyataan-pernyataan yang dapat mengganggu kepuasan kita.

Dengan demikian setiap orang akan cenderung menyimak secara saksama pada topik-topik atau pokok-pokok pembicaraan yang dapat dia setujui ketimbang pada yang kurang atau tidak disetujuinya. Terhadap yang demikian, Tarigan (1987: 103) mengatakan bahwa memahami sikap penyimak merupakan salah satu modal penting bagi pembicara untuk menarik minat atau perhatian para penyimak.

2.1.2   Keberhasilan menyimak bergantung pada perhatian

Kita akan bersdia menyimak sesuatu bila ada ide-ide yang menarik perhatian kita. Ada bermacam-macam perhatian, ialah perhatian primer, perhatian sekunder, dan perhatian sesaat. Kita akan menunjukkan adanya perhatian primer bila ada pertalian langsung antara apa yang disimak dari pembicara dengan kepentingan kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, kita akan menunjukkan adanya perhatian yang cukup aktif terhadap suatu perkembangan pendidikan di sebuah universitas, bila pembicara mengetengahkan adanya usaha menaikkan uang SPP tempat kita belajar atau tempat anaknya belajar.

Orang juga akan menunjukkan perhatian sekunder apabila ia mendengarkan bahwa pembicara menghimbau akan sesuatu. Contoh: anggota-anggota masyarakat berpendapat program kerja kemasyarakatan tentu cepat menarik perhatian, tetapi bila timbul upaya penarikan sumbangan tentu kita akan menolak. Namun bila ada upaya untuk menghentikan adanya usaha penarikan sumbangan, maka kita akan begitu tertarik dan gembira menghadapi masalah tersebut.

Persoalan lain yang dapat menarik perhatian adalah jenis perhatian sesaat (perhatian temporer). Misalnya, kita akan menunjukkan perhatian kita yang lebih besar pada masalah-masalah pemilihan umum pada saat pemilihan itu berlangsung. Kita akan tertarik dan menunjukkan perhatian yang lebih besar kepada masalah-masalah keluarga sendiri daripada kepada yang lain. Mahasiswa akan tertarik pada masalah kampus; guru akan tertarik pada masalah pendidikan; usahawan akan tetarik pada masalah keuangan dan penanaman modal; sedangkan ahli hukum tertarik pada hak-hak warga negara.

2.1.3   Keberhasilan menyimak bergantung pada motivasi

Penyimak akan memperhatikan apa yang dibahas oleh pembicara jika isi pembicaraan itu berkaitan erat dengan hasrat dan kebutuhan dasar kita. Orang akan tertarik bila kaitan pembicaraan adalah untuk hal-hal berikut: bertambahnya prestise dalam masyarakat, bertambahnya wibawa pada kawan-kawan, dan atau terjaminnya pemeliharaan terhadap benda-benda kesayangan. Ada berbagai motivasi dasar dalam kehidupan manusia, yaitu: (i) kelangsungan hidup pribadi, (ii) hak milik, (iii) kekuasaan, (iv) nama baik, (v) kasih sayang, (vi) emosi, dan (vii) cita rasa.

2.1.4 Keberhasilan menyimak bergantung pada keadaan emosi

Kemauan dan keberhasilan kita untuk menyimak banyak juga bergantung kepada keadaan emosi kita. Ketidakberhasilan menyimak yang tidak kita inginkan mungkin merupakan hasil dari gangguan emosi. Misalnya keseganan menghadiri pembicaraan, kurang tertarik pada masalah pembicaraan atau sikap pda waktu menyimak yang dapat menimbulkan masalah-masalah yang bersifat menekan perasaan.

Pada pihak lain kegagalan menyimak mungkin merupakan hasil sikap terhadap pembicara. Kita berprasangka pembicara tidak kapabel dalam menganalisis masalah disebabkan oleh kemauannya, kurangnya latihan dan pengalaman, atau ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan. Pembicara menyatakan sesuatu terlalu ekstrim, tidak logis, pernyataan-pernyataan dogmatis, sehingga mengganggu rasa intelegensi kita. Ia membuat pernyataan yang berlawanan dengan sikap politik, ekonomi, atau keyakinan sosial kita, dengan demikian ia menimbulkan rasa benci kepada kita.

R.G Nichols dan L.A. Steven dalam Soedjiatno (1982: 43) menyatakan bahwa dalam tingkat dan cara yang berbeda-beda kemampuan menyimak seseorang itu dapat dipengaruhi oleh emosi kita. Seperti halnya pelajar-pelajar yang terganggu dalam mengikuti pelajaran, kita juga sering-sering dalam melaksanakan proses menyimak dapat “sampai, tetapi kemudian kita matikan” apa yang kita ingini tersebut. Dengan kata lain, apabila kita ingin menyimak sesuatu, kita harus mau membuka telinga kita lebar-lebar, menyerap sesuatu kebenaran, setengah kebenaran atau fiksi.

Pendek kata dapat dikatakan menyimak yang baik itu bergantung kepada keadaan emosi penyimak. Pembicara akan tahu bahwa pandangannya akan menyimak dengan baik, jika penyimak itu bebas dari gangguan emosi, acuh tak acuh terhadap prasangka dan perasaan, selanjutnya mengambil sikap untuk menyimak secara sempurna.

2.2   Unsur-unsur menyimak

Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada berbagai unsur yang mendukung.  Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah unsur pokok yang menyebabkan timbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain.

Unsur-unsur dasar menyimak ialah: (1) pembicara (2) penyimak, (3) bahan simakan, dan (4) bahan lisan yang digunakan. Berikut ini adalah penjelaan maing-masing unsur itu.

2.2.1   Pembicara

Yang dimaksudkan dengan pembicara ialah orang yang menyampaikan pesan yang berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak. Dalam komunikasi lisan, pembicara ialah narasumber pembawa pesan, sedangkan lawan bicara ialah orang yang menerima pesan (penyimak).

Dalam aktivitasnya, seorang penyimak sering melakukan kegiatan menulis dengan mencatat hal-hal penting selama melakukan kegiatan menyimak. Catatan tersebut merupakan pokok-pokok pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Fungsi catatan tersebut ialah sebagai berikut:

a) meninjau kembali bahan simakan (reviu)

Kegiatan meninjau kembali bahan simakan merupakan salah satu ciri penyimak kritis. Pada kegiatan ini, penyimak mencermati kembali bahan simakan yang telah diterima melalui catatan seperti: topik, tema, dan  gagasan lain yang menunjang pesan yang disampaikan pembicara. Di samping itu penyimak dapat memprediksi berdasarkan pesan-pesan yang telah disampaikan pembicara.

b) menganalisis bahan simakan

Pada dasarnya menyimak ialah menerima pesan, namun dalam kenyataanya, seorang penyimak tidak hanya menerima pesan begitu saja, ia juga berusaha untuk mengnalisis pesan yang telah diterimanya itu. Kegiatan analisis ini dilakukan untuk membedakan ide pokok, ide bawahan, dan ide penunjang.

c) mengvaluasi bahan simakan

Pada tahap akhir kegiatan menyimak ialah mengevaluasi hasil simakan. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara:

(1) kekuatan bukti

Untuk membenarkan pernyataan pembicara, penyimak harus mengevaluasi bukti-bukti yang dikatakan pembicara. Jika bukti-bukti itu cukup kuat, apa yang dikatakan pembicara itu benar.

(2) validitas alasan

Jika pernyataan pembicara diikuti dengan alasan-alasan yang kuat, terpercaya, dan logis, dapat dikatakan bahwa alasan itu validitasnya tinggi.

(3) kebenaran tujuan

Penyimak harus mampu menemukan tujuan pembicara. Di samping itu, ia juga harus mampu membedakan penjelasan dengan keterangan inti, sikap subjektif dengan sikap objektif. Setelah itu ia akan mampu mencari tujuan pembicaraan (berupa pesan).

2.2.2   Penyimak

Penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak yang baik ialah  penyimak yang dapat melakukan kegiatan menyimak dengan intensif. Penyimak seperti itu akan selalu mendapatkan pesan pembicara secara tepat. Hal itu akan lebih sempurna jika ia ditunjang oleh pengetahuan dan pengalamannya.

Kamidjan (2001: 6) menyatakan bahwa penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki dua sikap, yaitu:

(a)          sikap objektif

Yang dimaksud dengan sikap objektif ialah pandangan penyimak terhadap bahan simakan. Jika bahan simakan itu baik, ia akan menyatakan baik, demikian pula sebaliknya. Penyimak sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal di luar kegiatan menyimak, seperti pribadi pembicara, ruang, suasana, sarana dan prasarana.

(b)    sikap kooperatif

Sikap kooperatif ialah sikap penyimak yang siap bekerja sama dengan pembicara untuk keberhasilan komunikasi tersebut. Sikap yang bermusuhan atau bertentangan dengan pembicara akan menimbulkan kegagalan menyimak. Jika hal itu yang terjadi, maka penyimak tidak akan mendapatkan pesan dari pembicara. Sikap yang baik ialah sikap berkooperatif dengan pembicara.

2.2.3   Bahan Simakan

Bahan simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak. Yang dimaksudkan dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan  terjadinya kegagalan dalam komunikasi.

Untuk menghindari kegagalan, perlu dikaji ulang bahan simakan dengan cara berikut.

(a)    menyimak tujuan pembicara

Langkah pertama penyimak dalam melakukan kegiatan menyimak ialah mencari tujuan pembicara. Jika hal itu telah dicapai, ia akan lebih gampang untuk mendapatkan pesan pembicara. Jika hal itu tidak ditemukan, ia akan mengalami kesulitan. Tujuan yang akan dicapai penyimak ialah: untuk mendapatkan fakta, mendapatkan inspirasi, menganalisis gagasan pembicara, mengevaluasi, dan mencari hiburan.

(b)    menyimak urutan pembicaraan

Seorang penyimak harus berusaha mencari ururtan pembicaraan. Hal itu dilakukan untuk memudahkan penyimak mencari pesan pembicara. Walaupun pembicara berkata agak cepat, penyimak dapat mengikuti  dengan hati-hati agar ia mendapatkan gamabaran tentang ururtan penyajian bahan. Urutan penyajian terdiri atas tiga komponen, yaitu pembukaan, isi, penutup. Pada bagian pembukaan berisi lingkup permasalahan yang akan dibahas. Bagian isi terdiri atas uraian panjang lebar permasalahan yang dikemukakan pada bagian pendahuluan. Pada bagian penutup berisi simpulan hasil pembahasan.

(c)    menyimak topik utama pembicaraan

Topik utama ialah topik yang selalu dibicarakan, dibahas, dianalsis selama pembicaraan berlangsung. Dengan mengetahui topik utama, penyimak dapat memprediksi apa sajayang akan dibicarakan dalam komunikasi tersebut. Jika penyimak satu profesi dengan pembicara, ia tidak akan kesulitan untuk menentukan topik utama. Sebuah topik utama memiliki ciri-ciri: menarik perhatian penyimak, bermanfaat bagi penyimak, dan akrab dengan penyimak.

(d)   menyimak topik bawahan

Setelah penyimak menemukan topik utama, langkah selanjutnya ialah mencari topik-topik bawahan. Umumnya pembicara akan membagi topik utama itu menjadi beberapa topik bawahan. Penyimak dapat mengasosiasikan topik utama itu dengan sebuah pohon besar, topik bawahan ialah dahan dan ranting pohon tersebut. Dengan demikian penyimak yang telah mengetahui topik utama, dengan mudah ia akan mengetahui topik-topik bawahannya.

(e)    menyimak akhir pembicaraan

Akhirnya pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan, dan saran-saran. Jika pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak ialah mencermati rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pembicara menyampaikan simpulan, maka penyimak mencocokkan catatannya dengan simpulan yang disampaikan pembicara. Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang simpulan yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak. Jika pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan himbauan itu secara cermat dan teliti.

MENYIMAK EFISIEN

Di atas telah dibahas beberapa prasyarat dan unsur-unsur yang perlu diperhatikan supaya dapat menyimak yang efisien dapat terlaksana dengan baik. Berikut dibahas masalah penyimak yang mempermasalahkan “bagaiman usaha kita supaya dapat memperbaiki kebiasaan menyimak agar makin bertambah baik?”

Untuk dapat menyimak secara baik, maka harus dipahami apakah yang membedakan antara menyimak dan membaca sebagai dasar untuk memahami metode menyimak yang efisien, sebab kedudukan keterampilan menyimak merupakan keterampilan reseptif. Apabila hendak diperbandingkan antara kedua hal tersebut, maka pembaca bergantung pada halamn-halaman cetak yang eksklusif, sedangkan penyimak menerima kesan bukan hanya dari apa yang dikatakan oleh pembicara, tetapi juga dari cara pembicara itu berkata. Sikap tenang pembicara, suara, dan gerak tubuh mungkin saja mempengaruhi arti yang dikatakan pembicara. Pembaca dapat saja berhenti untuk mempertimbangkan atau membaca kembali ide-ide yang tidak dimengerti secara penuh pada saat membaca pertama. Sebaliknya penyimak harus mengerti dengan segera, sebab penyimak tidak dapat meminta si pembicara mengulang atau untuk berhenti selama penyimak memikirkan apa yang sedang atau sudah dikatakan.

Hal-hal berikut dapat menjadi bahan pertimbangan supaya dapat menyimak lebih berhasil.

3.1   Menyimak dengan konsentrasi

Supaya dapat berkonsentrasi kita harus menyiapkan diri untuk selalu siap menyimak. Oleh karena itu, perlu adanya sikap kooperatif, objektif, dan memusatkan perhatian dan menyadari pentingnya masalah pokok bagi kita. Kita perlu meramalkan arah pembicaraan pada setiap kesempatan, meninjau apa yang telah kita tangkap dari bahan pembicaraan, mengikuti jalan pikiran pembicaraan, dan berusaha memprediksi tentang bagaimana pembicara mengembangkan masalah tersebut.

Konsentrasi memerlukan usaha-usaha secara terus menerus, bukan usaha tidak teratur, dan tanpa perhatian. Beberapa orang menyimak dengan penuh perhatian pada beberapa saat tertentu, tetapi kemudian memikirkan masalah lain atau melamun untuk waktu selanjutnya, dan seterusnya perhatian itu kembali lagi kepada pembicara. Proses menyimak yang tidak baik ini mungkin disebabkan oleh banyak alasan, misalnya adanya pengaruh-pengaruh yang mengganggu (kegaduhan di luar, datang terlambat, keanehan tingkah laku pembicara, metode penyajian yang kurang sesuai, tampang tubuh pembicara yang tidak wajar, atau kurangnya daya tarik persoalan.

Dengan pendek kata dapat dikatakan konsentrasi merupakan syarat dasar untuk menyimak yang efisien. Konsentrasi meminta suatu penentuan sikap pada waktu menyimak, suatu kemauan untuk bekerja keras, sikap memperhatikan terus-menerus kepada pembicara.

3.2   Menelaah materi simakan

Menyimak suatu pembicaraan merupakan suatu tipe menyimak yang sulit dibandingkan dengan tipe menyimak yang lain, sebab menyusun pembicaraan berarti mengembangkan berbagai macam ide sebagaimana mestinya, dan masing-masing perkembangan itu akan menjadi landasan yang satu terhadap yang lain. Suatu pengertian tentang terjadinya proses komposisi suatu pembicaraan akan membantu penyimak secara material, sebab kita lalu akan memiliki suatu pegangan dalam menentukan sesuatu dari pembicaraan.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tercapai proses menyimak yang baik sehubungan dengan materi simakan. Hal-hal yang dimaksudkan adalah sebagai berikut.

  1. Menentukan/mencari tujuan pembicaraan
  2. Membuat penggalan-penggalan pembicaraan
  3. Menentukan tema sentral pembicaraan
  4. Menentukan ide utama pembicaraan
  5. Menyimak bentuk-bentuk alat penegas berbicara
  6. Menyimak uraian ulangan dan rangkumannya

3.3   Menyimak dengan kritis

Pada dasarnya penyimak itu dapat diklasifikasikan empat golongan berikut.

(1)    Orang yang tak dapat menyimak. Golongan ini menghilangkan pembicaraan, mereka memikirkan hal-hal yang sama sekali lain daripada masalah yang dibicarakan. Penyimak ini hanya memperoleh sedikit saja dari pembicaraan yang disimaknya.

(2)    Orang yang hanya setengah menyimak. Orang yang demikian hanya menyimak secara tidak teratur, artinya bahwa mereka dikala menyimak selalu melompat-lompat dalam memahami atau menanggapi permasalahan yang dibahas. Pada dasarnya mereka mengerti fragmen-fragmen pembicaraan, tetapi mereka tidak tahu idenya secara keseluruhan.

(3)    Orang yang menyimak secara pasif. Penyimak ini memenuhi semua yang dikemukakan pembicara, tetapi tanpa pertanyaan satu pun dan bahkan mereka tidak mau mereaksi apa yang telah dibicarakan. Sebab mereka ini kekurangan bahan perbendaharaan pembandingnya. Oleh karenanya mereka hanya menambah sedikit saja dari apa yang dikatakan oleh pembicara berdasarkan pengalaman mereka.

(4)    Orang yang menyimak secara kritis. Tipe penyimak kritis ini mendapat banyak hasil dari sebuah pembicaraan. Bila kita mengambil tindakan berikut ini, berarti kita tergolong kelompok orang yang menyimak secara kritis.

  1. Hubungkan apa yang dikatakan pembicara itu kepada pengalaman kita sendiri.

Ketika kita menyimak rentetan pikiran akan segera kita kaitkan dengan pendapat kita, sehingga kita akan segera terangsang untuk berpikir secara konstruktif. Maka hendaknya segera kita hubungkan apa yang dikatakan pembicara itu dengan hasil studi dan pengalaman kita.

  1. Meninjau dan menyusun apa yang disimak.

Tariklah bersama-sama apa yang dikatakan pembicara itu dengan pikiran kita sendiri, dengan cara membuat ikhtisar dan sintesis secara keseluruhan. Pikirkan terlebih dahulu apa yang dikemukakan pembicara kemudian diramalkan bagaimana pembicara akan mengembangkan tema sentralnya. Seorang pembicara yang cerdas akan mengorganisasikan pembicaraannya dengan baik dalam mengembangkan temanya. Kita menyerap pembicaraan dengan membuat ikhtisar gagasan sebelumnya dalam pikiran kita, membuat ramalan gagasan yang akan datang, dan menghubungkan seluruh gagasan kepada filosofi dan ide dasar pembicaraan.

  1. Menganalisis dan mengevaluasi apa yang disimak

Kita menyimak untuk mengerti, namun kita harus mengerjakan lebih dari itu, kita harus mengadakan analisis, memberi pembobotan atas apa yang dikatakan oleh pembicara. Baik percaya maupun tidak atas apa yang dikatakan oleh pembicara, kita harus menyimaknya dengan kritis. Pertama, kita akan mengadakan analisis dengan membedakan ide-ide atas ide-ide pokok, ide bawahan, ataupun alat-alat penunjangnya. Kemudian kita adakan pembobotan atas pernyataan pembicara itu untuk: (i) mentes kekuatan bukti, (ii) mentes validitas alasan, dan (iii) menentukan kebenaran tujuan pembicaraan.

3.4   Membuat catatan sebagai bantuan mekanik sewaktu menyimak

Pertanyaan timbul, “Apakah kita perlu dan harus membuat catatan ketika kita menyimak?” Jawabannya  bergantung kepada tujuan yang kita maksudkan dalam proses menyimak itu sendiri.

Jika kita menyimak untuk memperoleh inspirasi, untuk menghibur diri, untuk mengadakan evaluasi terhadap metode pembicara dalam menyusun cara-cara berpidato, atau untuk menambah pengetahuan kebudayaan umum kita, maka pembuatan catatan hanya bermanfaat kecil saja.

Jika kita menyimak untuk mendapatkan fakta, untuk menganalisis apa yang dikemukakan oleh pembicara, atau untuk mengadakan evaluasi terhadap apa yang kita simak, maka catatan akan membantu kita.

Jika kita mempunyai maksud untuk memanfaatkan apa yang kita simak itu untuk waktu-waktu selanjutnya, misalnya supaya lulus ujian; untuk membantu menyusun gagasan pada suatu pembicaraan, atau untuk memberi ilustrasi terhadap ide dalam sebuah esai, maka catatan itu akan mempunyai nilai yang besar.

Membuat catatan dapat membantu penyimak karena mendorong berkonsentrasi, menyediakan bahan-bahan untuk review, dan dapat membantu mengingat-ingat. Namun sistem membuat catatan itu sendiri sudah memerlukan konsentrasi, hal ini berarti mengganggu proses menyimak. Oleh karena itu, pertimbangkan saran-saran berikut untuk membuat catatan yang efisien dalam mengikuti ceramah ataupun yang lainnya.

  1. Menggunakan sistem informal (makin simpel makin baik).
  2. Membuat catatan-catatan dengan pendek
  3. Menggunakan singkatan-singkatan dan simbol-simbol
  4. Membuat catatan yang jelas
  5. Menandai ide-ide yang penting an perlu diperhatikan
  6. Mereview catatan secara periodik
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s