UAS PSIKOLINGUISTIK

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Manusia dalam kehidupannya memerlukan komunikasi untuk dapat menjalin hubungan dengan manusia lain dalam lingkungan masyarakat. Komunikasi dapat dilakukam oleh manusia melalui bahasa. Bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari dibedakan menjadi dua sarana, yaitu sarana dengan bahasa tulis dan bahasa lisan. Baik bahasa lisan atau pun bahasa tulis salah satu fungsinya adalah untuk berkomunikasi. Secara Tertulis merupakan hubungan tidak langsung, sedangkan secara lisan adalah hubungan langsung. Dalam hubungan langsung akan terjadi sebuah percakapan antarindividu atau kelompok. Percakapan yang erjadi mengakibatkan adanya peristiwa ujaran  atau tindak ujaran ( speech acts ).

Pertumbuhan dan perkembangan komunikasi manusia membutuhkan waktu yang panjang serta terdiri atas fase-fase yang memiliki cirri-ciri tersendiri.Di antara fase-fase itu, fase pertumbuhan awal atau pertmbuhan anak-anak merupakan fase yang paling banyak mendapat sorotan karena mengandung arti penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia pada masa selanjutnya. Artinya, fase perkembangan anak, menentukan corak dan kualitas manusia pada saat mereka menjadi dewasa, baik aspek fisik, psikis maupun social.

Perkembangan fisik, psikis, dan sosial anak, juga diikuti dengan perkembangan bahasanya. Hal ini juga sejalan dengan aliran rasionalisme yang mengatakan bahwaperkembangan bahasa anak mengikuti suatu pola tertentu. Setiap pola perkembangan anak mempunyai tata bahasa sendir-sendiri pula yang mungkin saja tidak sama dengan tata bahasa orang dewasa.

Awal perkembangan bahasa pada dasarnya dapat diartikan sejak mulai adanya tangis pertama bayi, sebab tangis bayi dapat dianggap sebagai bahasa anak. Menangis bagi  anak  juga merupakan sarana mengekspresikan kehendak jiwanya. Sebagai contoh, seorang ibu dapat membedakan tangis bayinya saat lapar atau pipis dan pup.

Perkembangan bahasa berikutnya, secara berangsur-angsur akan mengikuti bakat serta ritme perkembangan alami. Akan tetapi, perkembangan tersebut akan dipengaruhi oleh lingkungan serta bahasa anak. Bahasa bagi anak juga berfungsi sebagai alat komunukasi, yakni untuk menyampaikan maksudnya kepada orang lain.

Bahasa anak atau tindak ujran pada anak, tidak terlepas dari bagaimana ia memperoleh bahasa pertama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Pemerolehan bahasa dapat terjadi tanpa adanya pengajaran khusus. Gejala pemerolehan bahasa pada hakikatnya merupakan perkembangan psikologis yang luar biasa dalam diri anak. Mengenai pemerolehan bahasa, semua anak mendapatkan bahasa pertamanya secara tidak sadar dengan jalan mendengar langsung dari lingkungannya. Pemerolehan tersebut berupa ujaran yang dapat didengarnya dari orang tua, para pengasuh, anak-anak yang lebih tua, teman sepermainan, televisi, atau radio.

Pemerolehan bahasa di lingkungan sosial, pertama kali anak dapatkan dari lingkungan keluarga, terutama ibu dan pengasuh. Ketika berbicara dengan bayi,  ibu biasanya menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam percakapan orang dewasa, misalnya dia menggunakan ujaran mamam untuk makan, mimi untuk minum, bobo untuk tidur dan sebagainya.

Seorang anak akan memperlihatkan apa yang diujarkan oleh lingkungan sosialnya dengan cara mengamati kemudian menirukannya. Pengamatan dan peniruan memegang peranan penting dalam menghasilkan bahasa tetapi tidak cukup untuk belajar bahasa. Anak secara aktif menyusun cara-cara untuk menggunakan bahasa itu dari apa yang dikatakan kepada mereka. Ada beberapa faktor penting mengenai bahasa yang diujarkan anak. Yang pertama, bahasa lisan atau bahasa mereka dengar. Kedua, bahasa tak terkendali  secara linguistic. Anak memperoleh bahasa tanpa dicerna terlebih dahulu. Bahasa dalam lingkungan anak tidak terkendali, dalam pengertian bahasa tersebut tidak tertata menurut tata bahasa yang sempurna. Bahasa yang dimiliki anak itu berkembang terus tahap dan makain berdiferensiasi dengan perkembangan intelegensi dan latar belakang social budaya yang membentuknya.

Pemerolehan bahasa terjadi secara bertahap. Ujaran yang dimiliki anak itu berkembang dengan makin bertambahnya usia anak tersebut dan akan mengalami perkembangan bahasa melalui tahap-tahap tertentu. Yang lebih menarik, anak tidak hanya mempunyai kemampuan untuk meniru yang pernah mereka dengar tetapi anak juga bias mengujarkan sesuatu dengan kata-kata yang dihasilkannya sendiri. Biasanya kata-kata itu tidak memiliki arti yang sulit untuk dimengerti oleh orang lain. Setiap orang mengalami proses tersebut dan menguasai bahasa ibunya, tetapi tidak seorang pun yang ingat apa yang terjadi selama prose situ berlangsung.

Selama lebih kurang dari dua dekade masalah pemerolehan bahasa mendapat perhatian yang sangat besar. Menurut Tarigan (1985) pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin rumit atau teori-teori yang masih terpendam. Senada dengan pendapat tersebut, Marjusman (1993:20) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa pada anak merupakan suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak-anak secara tidak sadar, implisit, dan informal. Kedua pendapat tersebut memperjelas bahwa pemerolehan bahasa pada anak merupakan suatu prestasi yang paling menakjubkan. Proses pemerolehan bahasa tidak mengenal adanya guru, waktu, dan tempat khusus tetapi terjadi secara alamiah.

Terkadang kita sebagai orang tua atau orang yang sudah dewasa jarang memperhatikan bagaimana seorang anak menguasai bahasa dan maknanya. Kita hanya menganggap proses tersebut terjadi secara alami saja. Padahal pada kenyataannya, masalah ini sangat rumit. Sering kali kita sukar memahami apa yang dikatakan, karena pada umumnya anak mengganti bunyi-bunyi tertentu dengan bunyi-bunyi yang lain.

Berdasarkan uraian mengenai tindak ujaran pada anak, yang tidak terlepas dari pemerolehan bahasanya, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana karakteristik tindak ujaran pada anak antara usia 2 sampai 4 tahun walaupun dalam waktu yang relatif singkat, yaitu hanya dua pekan.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan sebagai berikut :

Bagaimanakah karakteristik tindak ujaran anak usia 2 sampai 4 tahun?

  1. Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertjuan untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik tindak ujuaran anak usia 2 sampai 4 tahun di PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ) di Balai Warga Jalan Delman Asri VI Tanah Kusir Jakarta Selatan

 

  1. Kebermaknaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi penulis, para guru, khususnya guru bahasa Indonesia dan guru PAUD, TK atau pun pre school, orang tua, dewasa, para pengambil kebijakan yang tidak terlepas dari perkembangan jiwa dan bahasa pada anak serta semua pihak yang mempunyai perhatian terhadap dunia pendidikan, khususnya bahasa Indonesia.

Bagi penulis, penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan bahasa Indonesia, khususnya tentang tindak ujaran. Selain itu, penelitian ini dapat dipakai untuk mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya tentang tindak ujaran, baik secara teoretis maupun praktis.

Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk lebih memperhatikan tindak ujaran pada anak dengan berbagai macam karakteristik dan kendala dalam pemerolehan bahasa pada anak usia 2 sampai 4 tahun.

Bagi para orang tua, hasil penelitian ini diharapkan agar orang tua lebih menyadari betapa pentingnya memperhatikan perkembangan bahasa anak, baik dari sisi pemerolehannya yang akan digunakan atau diterapkannya pada tindak ujarannya sendiri dan tidak terlepas pada perkembangan jiwa maupun sosialnya.

  1. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik wawancara. Hal ini digunakan untuk mendapatkan data tentang karakteristik tindak ujaran pada anak usia 2 sampai 4 tahun

 

  1. Sumber Data

Yang akan dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah anak PAUD  ( Pendidikan Anak Usia Dini) di balai warga, jalan Delman Asri VI Tanah Kusir Jakarta Selatan sekitar 15 orang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KERANGKA TEORI

 

Tindak ujaran adalah salah satu kegiatan fungsional manusia sebagai makhluk berbahasa. Karena sifatnya yang fungsional, setiap manusia selalu berupaya untuk mampu melakukannya dengan sebaik-baiknya, baik melalui pemerolehan (acquicition) maupun pembelajaran (learning). Pemerolehan bahasa lazimnya dilakukan secara nonformal, sedangkan pembelajaran dilakukan secara formal (Subyakto, 1992:88). Kegiatan pemerolehan bahasa dapat dikembangkan, baik melalui lisan maupun tulisan. Aneka cara tersebut memiliki prasyarat yang berbeda. Kegiatan lisan cenderung bersifat praktis, sedangkan kegiatan tulisan bersifat formal.

Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi memerlukan dua sarana penting, yakni sarana linguistic dan sarana pragmatic. Sarana linguistic berkaitan dengan ketepatan bentuk dan struktur bahasa, sedangkan sarana pragmatic berkaitan dengan kecocokan bentuk dan struktur dengan konteks penggunaannya.

Tindak ujaran menurut Austin, 1995 (dalam Rahardi, 2005:104) dibedakan menjadi tiga, yaitu tindak ujaran lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak ujaran lokusi dari suatu ucapan adalah makna dasar referen dari ucapan. Tindak ujaran ilokusi adalah daya yang ditimbulkan pemakainya sebagai suatu perintah, ejekan, keluhan, pujian, dan sebagainya.. Tindak ujaran perlokusi adalah hasil dari apa yang diucapkan terhadap pendengarnya. Daya ilokusi seorang penutur menyampaikan amanatnya di dalam percakapan, kemudian percakapan itu dipahami dan ditanggapi oleh pendengar. Selanjutnya pendengar melakukan atau tidak melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang diucapkan pengujar.

Tindak ujaran ilokusi dalam komunikasi pada suatu penelitian penting untuk diperhatikan. Hal ini senada dengan pendapat Kushartanti, Yuwono dan Lauder (2005:104) yang menyatakan bahwa tindak ujaran ilokusi dalam komunikasi merupakan bentuk sikap ekspresi yang memberikan ruang tgerjadinya beberapa tipe tindak. Ilokusi merupakan ujaran yang dapat didekode oleh pengujar yang memudahkan mitraujar membedakan interprestasi maksud ujaran dalam tindakan (Rohmadi, 2004 :31) menyatakan bahwa tindak ilokusi memberikan tantangan dalam penelitian kebahasaan sebab tindak ilokusi sulit diidentifikasi dan harus terlebih dahulu mempertimbangkan siapa pengujar dan lawan ujar.

Pendapat tersebut membuktikan bahwa kajian ilokusi penting untuk mendapat perhatian sebab dalam kajian ilokusi membahas tentang sikap dan ekspresi tindakan seseorang dalam berkomunikasi dengan kajian tertuju pada pengujar dan lawan ujar. Ilokusi sebagai daya yang ditimbulkan oleh pemakainya dapat mempengaruhi partisipan untuk melakukan suatu tindakan, baik tindakan positif atau negatif.

Alasan menariknya percakapan penting untuk dianalisis diutarakan oleh Subadiyono (2002:1) bahwa analisis percakapan adalah sebuah teknik yang dikembangkan untuk mengamati dan mengeksplorasi bahasa percakapan. Analisis ini bekerja pada wilayah yang memfokuskan pada pembicaraan spontan yang terjadi dalam peristiwa narural situasi sosisl yang difokuskan pada ujaran yang digunakan seseorang pada situasi tertentu.

Orang satu dengan orang lainnya ada perbedaan saat berbicara, baik tekanan kalimatnya atau kata-kata yang digunakan. Semakin banyak kosakata yang dikuasai oleh seseorang, maka oarng tersebut dapat bervariasi dalam menggunakan kalimat. Sebaliknya, orang yang miskin kosakata akan kesulitan dalam berbicaradan bersifat monoton. Penguasaan kosakata dalam berbicara mempunyai peran penting saat orang berbicara, dan itu tidak terlepas dari pemerolehan bahasa sejak masih anak-anak.

Pemerolehan bahasa atau language acquistionadalah suatu proses yang dipergunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan rangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orang tuanyasampai dia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang paling baik , serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut (Kiparsky, 1968:194). Anak-anak melihat dengan pandangan yang cerahakan kenyataan-kenyatan bahasa yang dipelajarinya dengan melihat tata bahasa asli orang tuanya, serta pembaharuan-pembaharuan yang telah mereka perbuat sebagai bahasa tunggal. Kemudian dia menyusun atau membangun suatu tata bahasa yang baru serta disederhanakan dengan pembaharuan-pembaharuan yang dibuatnya sendiri.

Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa, kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa, anak-anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya.. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai cirri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memliki suatu permulaan yang gradual, yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, social dan kognitif pralinguistik.

Pemerolehan bahasa mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anakketika belajar atau memperoleh bahasa seperti yang disampaikan oleh Fromkin  dan Rodman (1998:318)  bahwa :

  1. Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa.
  2. Anak-anak dapat belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
  3. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Dardjowidjojo (2003:225) berpendapat bahwa penguasaan kosakata yang digunakan untuk berbahasa oleh anak dipengaruhi oleh lingkungan keluargasebagai tempat pemerolehan bahasa yang utama dam pertama (bahasa daerah atau bahasa ibu). Bahasa yang digunakan anak berkaitan erat dengan topic-topik pembicaraan dan cara memahami bunyi ujaran dari lawan bicara sesuai dengan aturan-aturan yang diperoleh anak sejak kecil, saat anak mulai dapat berbicara.

Perkembangan pemakaian bahasa pada anak dipengaruhi oleh meningkatnya usia anak. Semakin anak bertambah umur, maka akan semakin banyak kosakata yang dikuasai. Hurlock berpendapat (2001:116) bahwa perkembangan bahasa yang dikuasai anak dipengaruhi oleh perkembangan usia anak dan lingkungan. Sewaktu anak masih berusia di bawah tiga tahun, waktu anak lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga sehingga bahwa yang dikuasai pun juga hanya berasal dari lingkungan keluarga. Selanjutnya setelah anak berusia tiga tahun ke atas, anak mulai memasuki lingkungan sekolah seperti play group, pre school, PAUD atau pun TK, anak mulai melakukan hubungan social keluar rumah. Anak yang telah bersosialisasi dengan dunia di luar rumah akan menemui kosakata yang lebih banyak dan beranaka ragam.

Searle pada Dardjowidjojo (2003:95-98) membagi tindak ujaran ke dalam lima kategori, yaitu :

  1. Representatif adalah pernyataan  (assertions) tentang suatu keadaan di dunia. Dari segi pembicara apa yang dinyatakan itu mengandung kebenaran
  2. Direktif adalah pembicara melakukan tindak ujaran dengan tujuan agar pendengar melakukan sesuatu
  3. Komisif hampir sama dengan direktif. Perbedaannya terletak pada arahnya. Pada ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan melakukan sesuatu. Pada ujaran komisif, perintah itu diarahkan kepada pembicara sendiri.
  4. Ekspresif, tindak ujaran yang dipakai oleh pembicara bila dia ingin menyatakan keadaan psikologisnya, seperti perasaan senang, bahagia atau pun sedih.
  5. Deklaratif adalah tindak ujaran yang menyatakan adanya suatu keadaan baru yang muncul oleh karena ujaran itu. Untuk menyatakannya harus memiliki syarat kelayakan (felicity condition).

 

 

 

 

 

BAB III

ANALISIS

 

Berdasarkan sumber data yang penulis dapatkan dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang kisaran siswanya berusia 2 sampai 4 tahun, maka penulis akan menelaah bagaimana karakteristik tindak ujaran bahasa anak kisaran usia tersebut. Selain itu, penulis mengambil salah satu siswa PAUD sebagai instrumen penelitian yang relative singkat.

Siswa tersebut bernama Zaidan Alfaiz Sofyan. Lahir di Jakarta, 1 Juni 2006 (3 tahun 8 bulan. Anak pertama dari Sofyan Amir dan Risa Fatimah. Ayahnya seorang karyawan dan ibunya guru bahasa Inggris di salah satu SMP negeri di Jakarta Selatan. Selama orang tuanya bekerja, Zaidan diasuh oleh nenek dan pengasuhnaya. Setiap hari Risa Fatimah selalu membekali pengasuhnya beberapa kosakata bahasa Inggris yang perlu diperkenalkan pada Zaidan dengan tujuan untuk menambah perbendaharaan  bahasa Inggris. Zaidan memiliki hobi bermain bola, bernyanyi,  menonton TV,  dan mendengarkan cerita. Zaidan memiliki karakter pemalu, keras, dan agak malas dalam berujar bila tidak dibutuhkan.

Upaya untuk mengumpulkan data, penulis melakukan serangkaian kegiatan, yaitu observasi atau pengamatan dan wawancara dengan instrument yang telah dirancang dan kepustakaan. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang saling mendukung tentang karakteristik tindak ujaran anak usia 2 sampai 4 tahun.

Dari hasil observasi dan wawancara, penulis dapat mengumpukan data antara lain :

  • Tahap II, kalimat dua kata (2,0-3,0)

Kanak-kanak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase  dalam rangkaian yang cepat. Keterampilan anak pada akhir tahap ini makin luar biasa. Komunikasi yang ingin dia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu semua sama seperti perkembangan awal, yaitu sana, sini, itu, lihat, mau, dan minta.

Selain keterampilan mengucapkan dua kata, ternyata pada periode ini si anak terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini tampak sekali kreativitas. Keterampilan tersebut muncul pada anak dikarenakan makin bertambahnya perbendaharaan kata yang diperoleh  dari lingkungannya  dan juga karena  perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada anak.

Dalam bahasa Inggris, ujaran satu kata adalah ujran satu suku kata karena pada umunya kata-kata dalam bahasa ini bersuku satu. Dengan demikian ujaran dua kata sebenarnya adalah ujaran dua suku kata. Pengertian ini sangat penting untuk pemerolehan bahasa Indonesia karena kebanyakan kata dalam bahasa Indonesia bersuku dua. Jadi ujaran satu kata bahasa Indonesia sebenarnya bias sama dengan ujaran dua kata pada bahasa Inggris, meskipun tentu saja ada perbedaan lain. Kebanyakan buku tata bahasa Indonesia, termasuk Tata Bahasa Baku Bahasa Indoneis (1998) menyatakan bahwa tekanan kata pada bahasa Indonesia jatuh pada suku penultimate (kedua terakhir). Apabila suku penultimate itu berupa pepet (schwa), maka tekanan dipindahkan ke suku terakhir. Jadi untuk kata gajah, terkena jatuh pada suku gad an bukan jah. Sementara itu salah satu strategi yang dipakai oleh anak untuk memilih suatu bentuk tadi memiliki tekanan yang primer. Di sini tampak ada suatu kontradiksi.

Pada umumnya ujaran yang banyak muncul dari ujaran anak pada usia 2 tahun adalah action word, yaitu kata-kata yang mengacu pada tindakan spesifik. Selain itu, ujaran anak kadang kala hanya mengulang apa yang diucapkan dan saat berbicara tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.

/dak a’u/                                  tidak mau

/atit/                                         sakit

/atuh//                                      jatuh

/nakang/                                   nakal

/wauk/                                     bau

Ujaran yang keluar dari ucapan tidak selalu berupa aktivtas atau keadaan, bias juga pelaku dengan aktivitas tergantung pada konteks. Sedangkan unsure kalimat yang sering dihilangkan yaitu objek, dan kata penunjuk. Lebih lanjut, kata aktivitas lain yang sering diujarkan anak pada usia ini adalah :

/atit ma/                                   sakit ma

/dah pai/                                  sudah sampai

/cu’ma/                                    susu ma

Berdasarkan kata-kata yang dapat diujarkan anak pada fase ini, anak sudah dapat mengujarkan konsonan /b,d,p,m,n,y/ terutama konsonan /p/ dengan baik, karena konsonan ini mudah dilihat alat bicara yang menghasilkannya. Sebaliknya konsonan velar, misalnya /g/ dan frikatif labiodentals dan apiko alveolar, misalnya /f,s/ tidak dapat segera diujarkan karena alat diujarkan karena alat bicara yang dihasilkannya tidak kelihatan dan belum sempurna. Di samping itu,seringkali menggantikan satu konsonan dengan konsonan yang lain. Contohnya susu menjadi /cucu/. Nakal menjadi /nakang/, bauk menjadi /wauk/ dan sakit menjadi /atit/

Kecenderungan lain yang dilakukan anak yaitu dia sudah memahami sebagaian kata-kata yang menunjukkan perbandingan.

/sar cil/                                     besar kecil

/ik run/                                     naik turun

/das nis/                                   pedas manis

/nas ngin/                                 panas dingin

Karakteristik lain yang ditunjukkan anak berkaitan dengan pemerolehan bahasa pada masa holofrasa adalah anak lebih cepat paham dan langsung mengerjakan daripada mengucapkannya.

  1. Ambil celana nak !
  2. Ambil sepatu nak !
  3. Ambil handuk nak !
  4. Tolong letakkan gelas ini nak !

Secara umum dari contoh di atas, semua anak dapat melaksanakan semuanya tanpa keliru. Artinya, anak bias paham dengan kata gelas, letakkan, sepatu, handuk. Dia sudah bias membedakan antara baju dan celana, begitu juga dengan gelas dan sepatu, daripada mengucapkannya. Jadi dapat juga dikatakan bahwa motorik anak secara keseluruhan lebih cepat berkembang daripada bahasanya.

  1. Bentuk ujaran satu kata

{num}                             dedek minum

{ci}                                 dedek tambah nasi

{mam}                            dedek mau makan

{lampu}                          hidukan lampu

{cing}                             kucing ke sini

{kek}                              pakaikan baju

{puk}                              dedek mau kerupuk

{mi}                                ini baju dedek

{nakang}                         kakak itu nakal

{bek}                              itu kambing

{dodok}                          dedek mau duduk

{yatu}                             dedek mau duduk

{yaju}                             baju dedek bagus

{nana}                             celana dedek basah

{auh}                              rumah kakak jauh

{atuh}                             dedek jatuh mama

 

  1. Bentuk ujaran dua kata

 

{atit ma}                                 kaki dedek sakit ma

{ndak au}                               dedek tidak mau ikut

{ngin ma}                               dingin mama

{dah pai}                                kita sudah sampai

{ndak dadak}                         abang tidak ada

{pat ne}                                  dedek mau ikut ke rumah nenek

  1. Bentuk  ujaran tiga kata

{mi’ cu ma}                             dedek mau minum susu mama

 

Makna fungsi dan konteks ujaran anak

Makna fungsi dalam konteks pemerolehan bahasa anak adalah kegunaan ujaran yang disampaikan oleh anak. Berdasarkan konteks, situasi, tuturan tersebut ada yang terjadi di dalam rumah, halaman, dan tempat-tempat lain. Bentuk adalah bunyi atau ucapan yang dikeluarkan oleh anak. Bentuk yang dikeluatkan anak itu terdiri dari atas dua, yaitu bentuk lengkap dan bentuk tidak lengkap. Konteks adalah keseluruhan yang melatari ujaran itu, seperti orang (bayi, ibu, bapak, pengasuh dan lain lain). Tempat (kamar tidur, ruang makan, teras, dan ruang lainnya), suasana (singin, panas, gembira, sedih, dan sebagainya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (3-4 tahun)

 

Pada tahap ini perkembangan anak makin luar biasa. Pada fase ini perkembangan bahasanya sudah dengan kalimat lebih dari dua kata dan periode diferensiasi. Tahap ini pada umumnya dialami oleh anak berusia 2,5 samapi dengan 5 tahun. Hal ini sesuai dengan usia Zaidan sebagai instrument penelitian singkat ini. Pada fase ini anak sudah mulai dapat bercakap-cakap dengan teman sebaya dan mulai aktif memulai percakapan. Tahap sebelumya sampai tahap perkembangan dua kata anak lebih banyak bergaul dengan orang tuanya. Sedangkan tahap inipergaulan anak makin luas yang berarti menembah pengetahuan dan perbendaharaankata.

 

Beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai anak pada tahap ini

  1. Pada akhir periode ini secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya kaidah-kaidah tata bahsa yang utama dari orang dewasa telah dikuasai.
  2. Perbendaharaan kata berkembang, beberapa pengertian abstrak seperti pengertian waktu, ruang, dan jumlah yang didinginkan mulai muncul
  3. Mereka mulai dapat membedakan kata kerja  (contoh : makan, minum, pergi, masak, mandi), kata ganti (aku, saya), kata kerja bantu (tidak, bukan, mau, boleh, dan sebagainya )
  4. Fungsi bahasa untuk berkomunikasi betul-betul mulai berfungsi : anak sudah dapat mengadakan konvesasi (percakapan) dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
  5. Persepsi anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, member tahu, dan lain lain.
  6. Tumbuhnya kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru. Gejala ini merupakan cara anak untuk mempelajari perkataan baru dengan cara bermain-main. Hal ini terjadi karena memang daya fantasi anak pada tahap ini sedang berkembang pesat.

 

Zaidan biasa melakukan latihan bernyanyi dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia sebagai baasa ibunya dan bahasa Inggris karena ibunya guru bahasa Inggris. Zaidan terbiasa mendengar kalimat perintah pada cakapan sehari-hari dan menyimak cerita dari ibunya. Di setiap sudut rumah, ibunya banyak menempelkan kosa kata bahasa Inggris yang terdiri dari dua suku kata. Hasil yang dicapai, Zaidan sudah hapal nama-nama hewan sekitar 20 dalam bahasa Inggris, semua jenis kendaraan, 10 nama buah, 10 warna, anggota tubuh dan minuman dalam bahasa Inggris. Selain itu. Zaidan sudah mengerti dan mengucapkan kalimat perintah.

 

Berikut situasi percakapan antara zaidan dengan ibunya :

 

Situasi di kamar mandi

Zaidan       :             Switch on the lamp !

Mommy     :             ok/yes

 

Situasi minum susu

Zaidan       :              milk, please mommy

Mommy     :              yes

Zaidan       :             thank you

 

Situasi menonton televise

Mommy     :              switch of the TV ya?

Zaidan                   :  no no

 

Situasi di kamar tidur

Mommy     :              Switch of the lamp ya ?

Big or small lamp ?

Zaidan       :              no, big lamp aja

 

 

Dari tiap percakapan dan situasi yang berbeda, menunjukkan bahwa Zaidan sudah mengerti dan mampu mengucapkan kalimat perintah. Hal yang menerik adalah, Zaidan jarang menggunakan kata-kata dalam kalimat perintah yang sekiranya dia bisa mengerjakan pekerjaan itu, misalnya kalimat please, open the door. Kalimat tersebut, jarang atau tidak pernah dia ujarkan karena dia mampu membuka pintu. Namun karena stop kontak untuk menghidupkan atau mematikan lampu terlalu tinggi untuk dia dan sulit bagi dia untuk menggapainya, maka kalimat tersebut seringkali dia ujarkan

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Pertumbuhan dan perkembangan manusia membutuhkan waktu yang panjang serta terdiri dari fase-fase yang memiliki karakteritik tersendiri. Begitu pula pada perkembangan bahasanya, baik dari sisi tindak ujaran maupun pemerolehan bahasanya. Hal ini sejalan dengan aliran rasionalisme yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak mengukuti suatu pola tertentu. Setiap pola perkembangan anak mempunyai tata bahasa sendiri-sendiri pula yang tentu saja tidak sama dengan tata bahasa orang dewasa.

Kanak-kanak yang mulai memasuki fase usia 2 tahun atau holofrase, sudah mampu mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat dalam bentuk bertanya dan meminta. Sementara pada tahap usia 4 tahun, perkembangan bahasanya makin luar biasa, karena sudah dapat bercakap-cakap dengan teman sebaya dan mulai aktif memulai percakapan karena pergaulan anak makin luas yang berarti menambah pengetahuan dan perbendagaraan katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

————.2000. Echa. Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

http; // mahardhikazifana. Com/Linguistics /tindak tutur-pragmatik-berbahasa.html

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Psikolinguistik. Bandung ; Angkasa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s