tugas awal mata kuliah landasan pendidikan

 

SEKOLAHNYA MANUSIA SEKOLAH BERBASIS MULTIPLE INTELEGENCES DI INDONESIA

 

Alam sekitarnya dikelola oleh manusia yang kompentensi dan kecerdasannya sangat beragam. Jika kecerdasan yang beragan tersebut digali secara terus menerus dengan cara yang tepat dan cepat akan muncullah manusia unggul dalam bidang linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik,  dan interpersonal.

 

Agar hal ini dapat terwujud, maka dalam dunia pendidikan perlu mengelola sekolah yang tepat, yaitu bukan sekedar sekolah robot yang lebih mementingkan the best input, tapi sekolahnya manusia yang mengedepankan the best process. Sekolahnya manusia adalah sekolah berbasis MI ( multiple intelegencess ), yaitu sekolah yang menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa.

 

Pemahaman makna kecerdasan merupakan awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Kesepakatan atas paradigma dan makna tentang kecerdasan selanjutnya dapat menjadi awal penyususnan dan aplikasi sebuah sistem pendidikan.

 

Pembicaraan mengenai makna  kecerdasan sangatlah luas Teori-teori kecerdasan terus berkembang, mulai dari Plato, Aristoteles, Darwinm Alferd Binet, Stanberg sampai Howard Gardner. Perkembangan yang pesat ini mengerucut pada pola yang sama, yaitu makna kecerdasan banyak ditentukan oleh factor situasi dan kondisi ( konteks ) yang terjadi pada saat teori itu muncul dan akhirnya makna kecerdasan sangatlah bergantung pada banyaknya kepentingan eksternal dari hakikat kecerdasan itu sendiri. Kepentingan eksternal tersebut mekiputi kepentingan politis, eugenic ( keturunan ), keunggulan ras dan banyak lagi.

 

Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada 1983 saat Dr. Howard Gardner pemimpin Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Teori Multiple Intelegences yang belakangan ini banyak diikuti oleh psikolog dunia yang berpikiran maju, mulai menyita perhatian masyarakat, seperti wilayah edukasi, bahkan dunia professional di perusahaan-perusahaan besar.

 

Ada tiga alasan kalau multiple intelegences mendapat perhatian masyarakat setelah mengalami perubahan paradigma oleh Gardner, yaitu :

 

  1. Kecerdasan tidak dibatasi tes formal

Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement tes ( tes formal ). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan itu selalu berkembang ( dinamis ), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang, padahal kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.

Jika diteliti lebih mendalam, tes IQ yang diciptakan oleh Binet mengandung konsep eugenic. Berarti penguasa atau bangsawan pasti memiliki keturunan yang cerdas, sebab penguasa dan bangsawan adalah masyarakat yang cerdas. Sebaliknya kelompok buruh yang notabene pekerja kasar adalah mereka yang tidak cerdas, dan oleh karena itu pasti akan melahirkan keturunan yang bodoh. Berkenaan dengan hal tersebut, Valentine Dimitriev, Ph.D. mengatakan bahwa ada dua faktor dalam perkembangan otak manusia yang menjadikan beberapa orang lebih pandai daripada yang lainnya, yaitu keturunan dan lingkungan. Tidak banyak yang bisa dilakukan orang tua untuk mengubah warisan gen seorang bayi, tetapi sangat banyak yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan faktor lingkungan guna meningkatkan potensi perkembangan seorang anak. Jadi, sangatlah tidak adil bila kecerdasan seseorang hanya dilihat dari interval angka IQ, padahal kenyataannya, kecerdasan seseorang lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor yang melibatkan kecerdasan diri, disiplin, dan empati yang disebut kecerdasan emosi.

 

  1. Kecerdasan itu multidimensi

Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal atau logika saja, tapi masih banyak yang lain seperti kecerdasan spasial visul, musik, interpersonal, kinestetis, naturalis. Hal ini akan terus berkembang dan masih banyak lagi yang belum ditemukan.

 

  1. Kecerdasan, proses discovering ability

Multiple intelegences memiliki metode discovering ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Metode ini meyakini bahwa setiap orang pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu yang harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan. Jika yang ditemukan adalah kelemahan dalam satu jenis kecerdasan, kelemahan itu harus dimasukkan ke dalam laci dan dikunci rapat-rapat. Proses menemukan inilah yang menjadi sumber kecerdasan anak. Dalam menemukan kecerdasannya seorang anak harus dibantu oleh lingkungannya, baik dari orang tua, guru, sekolah, maupun sistem pendidikan yang diimplementasikan di suatu Negara. Betapa banyak contoh tokoh yang cerdas dan terkenal dan bermanfaat bagi masyarakat ternyata banyak memiliki kelemahan. Jadi, apabila kondisi lingkungan seseorang kondusif dan selaras dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya, orang tersebut akan dengan cepat menemukan kondisi akhir terbaik akibat dipicu oleh kondisi lingkungan tersebut. Sebaliknya apabila kondisi lingkungan tidak mendukung, orang tersebut tidak akan pernah muncul menjadi orang yang mampu memberikan manfaat untuk masyarakat dan dunia.

KETIKA MULTPLE INTELEGENCES DITERAPKAN DI SEKOLAH

 

Pada saat multiple intelegences ditarik ke dalam ranah edukasi, paradigma pendidikan pun mengalami banyak koreksi. Penerapan multiple intelegences dalam dunia pendidikan terutama di Indonesia, akan mengalami tantangan dan hambatan besar. Namun adanya referensi dari para tokoh multiple intelegences, khususnya Howard Gardner, Ph. D., dan Thomas Amnstrong, Ph. D. yang selalu memberikan suport  untuk berani menerapkan MI dalam dunia pendidikan di Indonesia. Apalagi setelah didapat data tentang banyaknya sekolah yang berhasil menerapkan MI di beberapa negara. Keberhasilan itu tidak hanya terlihat di Amerika Serikat, tetapi juga di Cina, India, Singapura, dan beberapa negara Asia lainnya.

Tantangan dan hambatan dalam menerapkan multiple intelegences ke sekolah-sekolah memang banyak dialami hampir di setiap tempat. Apalagi pola penerapan teori ini berbeda-beda antara satu sekolah dan sekolah lainnya,  bergantung pada kondisi masing-masing. Pola penerapan yang berbeda-beda inilah yang menyebabkan model pembelajaran multipleintelegences di setiap sekolah memiliki karakteristik masing-masing.

 

Beberapa Tantangan Aplikasi Multiple Intelegences di Dunia Pendidikan di Indonesia, adalah

  1. 1. Beberapa elemen sistem pendidikan di Indonesia masih kurang sejalan dengan sistem pendidikan yang proporsional.

Propoorsional tidak hanya sekedar seinbang, tetapi juga manusiawi. Secara teoretis, sistem pendidikan yang tidak proposional tersebut terdapat pada alur pendidikan, mulai dari input, proses, dan output. Input adalah bagaimana pandanga kita terhadap penerimaan siswa baru. Bagaimana kita memandang kondisi siswa dalam kaitannya dengan hak siswa tersebut untuk dapat bersekolah dan menerima pendidikan. Proses adalah bagaimana proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif. Hal ini terletak pada strategi pembelajaran yang berkaitan dengan relasi antara guru dan siswa. Output adalah bagaimana proses pengambilan nilai ( assessment ) terhadap asktivitas pembelajaran yang adil dan manusiawi. Pada bagian ihilah seharusnya kita mendapat hasil pembelajaran yang autentik dan terukur.

  1. Pemahaman yang salah tentang makna sekolah unggul di Indonesia. Indikator sekolah unggul masih dititikberatkan pada the best input. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang memilih dan menyeleksi siswa-siswa yang akan masuk sekolah tersebut secara ketat.
  2. 3. Desain kurikulum yang masih sentralistis Pemerintah mulai menyadari kesalahan kurikulum yang sentralistis.

Oleh karena itu dibuatlah kurikulum tahun 2006 yang bernama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang punya visi desentralisasi kurikulum pada setiap distrik atau daerah. Banyak harapan dalam penerapan KTSP. Semoga saja KTSP adalah langkah awal pemerintah untik memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk mendesain kurikulum pendidikannya sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

  1. 4. Penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi hasil akhir pendidikan.

Isu ujian nasional masih menjadi dilema pada sistem pendidikan      kita. Banyak ahli pendidikan yang berpendapat ujian nasional justru pertentangan dengan pemberlakuan kurikulum pendidikan yang berbasis kompentensi. Namun tidak sedikit pula ahli pendidikan yang menginginkan ujian nasional tetap diberlakukan.

  1. 5. Proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi.
  2. 6. Proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuan kognitif yang terbasar masih belum menggunakan peniilaian autentik secara komprehensif

 

Dengan tantangan-tantangan tersebut, sekolah yang ingin menerapkan multiple intelegences sistem secara tepat membutuhkan keberanian tingkat tinggi untuk berubah. Reformasi sekolah demi keunggulan sumberdaya manusia harus direalisasikan. Pemberlakuan KTSP mestinya menjadi peluang bagi sekolah-sekolah di Indonesia, baik sekolah negeri maupun swasta untuk berani berubah dari paradigma pendidikan yang usang dan ketinggalan zaman untuk mewujudkan hal-hal baru yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat di mana pun dan di bidang apa pun

 

INDIKATOR SEKOLAH UNGGUL

 

Pada dasarnya sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran  bergantung pada kualitas para guru. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan sebagai agen pengubah siswanya. Atau dengan kata lain para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik, baik kualitas akademis maupun moral

Risiko bagi sekolah yang mengklaim sekolahnya adalah sekolah unggul, mereka harus dengan senang hati menerima semua siswa apa adanya tanpa pandang bulu dan tanpa memilih siswa dengan tes seleksi. Hal ini karena prinsip sekolah tersebut tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi, baik dengan dirinya sendiri ( mengenal potensi diri ) maupun dengan pihak lain.

Jadi sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia, dalam arti menghargai setiap potensi yang ada pada diri siswa. Sekolah yang membuka pintunya pada semua siswa, bukan dengan menyeleksinya dengan tes-tes formal yang memiliki interval nilai berupa angka-angka untuk menyatakan batasan diterima atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s